Kamis, 17 Mei 2012

[Fanfic] Jinnai-Daisuke - Kimi to Deatte, Yokatta~ (part3)

Kimi to Deatte, Yokatta
(part3)

St. Rudolph pagi ini masih tampak sepi. Tapi beberapa siswa sudah berlalu lalang di sekitaran sekolah. Berbeda dengan biasanya, pagi ini klub tennis tampak sepi. Padahal biasanya semua anggota tim baik cadangan maupun inti, sudah berkumpul di lapangan untuk latihan pagi. Tapi, sosok seseorang yang belakangan jarang hadir di ruang klub, tampak memasuki ruang ganti.

“ ah, ohayou, jinnai…” sapa kenta pada jinnai yang baru masuk ke ruang ganti. Ia bersikap seperti biasa. Seolah jinnai tidak pernah menghindari klub.

“ a… ohayou..” jawab jinnai sambil mendekati loker bajunya.

“ loker itu sudah beberapa bulan tak kau pakai, jadi masih berdebu. Okubo berkali-kali menawarkan diri membersihkan lokermu, tapi aku tak mengijinkan. Entah jinnai yang lagi marah, bakal semarah apa lagi kalau tahu benda miliknya disentuh orang lain tanpa sepengetahuannya.” Jelas kenta. Ia menutup loker miliknya dan menghampiri jinnai. “ aku senang kau akan kembali ke klub.” Kenta berlalu setelah menepuk bahu jinnai.

Jinnai menundukkan kepalanya. Merasa bersalah pada kenta yang selama ini selalu memperhatikannya, tapi jinnai sendiri selalu menghindar dari kenta.
Setelah selesai berganti pakaian, dan mengeluarkan raket dari tasnya, jinnai keluar ruang klub dan menuju lapangan tennis. Tampak di tengah lapangan, kenta sedang asik mengobrol dengan daisuke. Menyadari kedatangan jinnai, mereka menghentikan pembicaraan, dan serempak tersenyum pada jinnai yang tampak malu disenyumi seperti itu.

“ sesuai janji, pagi ini tidak ada latihan, dan anggota lain aku larang ke sini. Aku harap kau dan hirose bisa bertanding dengan santai.” Ujar kenta.

Semalam, jinnai minta ijin kenta agar ia mengijinkan dirinya bertanding dengan daisuke. Awalnya kenta kaget dan agak ragu tapi mendengar kata “aku mohon” dari jinnai, entah kenapa kenta langsung mengijinkannya.

“ nah, silakan bertanding. Self judge saja. Aku mau menghadap pelatih dulu” setelah menepuk bahu daisuke dan jinnai bergantian, kenta meninggalkan lapangan tennis.

Suasana sepi sesaat setelah kenta menghilang di belokan kantin. Jinnai bingung bagaimana harus memulai, mengingat ia sudah berkata kasar pada daisuke kemarin.

“ ano, hirose…” jinnai mencoba memulai pembicaraan.

daisuke de ii. Jangan formal begitu. Kita kan satu klub tennis. Apalagi dulu saudaraku partner doublesmu” Daisuke tersenyum.

Detik berikutnya, jinnai sudah berlutut di hadapan daisuke. Melihat tindak spontan jinnai, daisuke panik dan jongkok. Mencoba menarik tangan jinnai supaya orang yang bersangkutan bangun. Apa daya, tangan kurus daisuke tak mampu mengangkat jinnai yang bersikeras pada posisinya.

“ mou, jinnai-san… jangan begini.”
“ gomen.” Hanya itu kata yang berhasil diucapkan jinnai.
nan no koto?”
“ sikapku kemarin. Juga sikapku pada keisuke.”

“ jinnai-san nggak salah kok. Aku tahu kalau jinnai-san pasti sayang sekali sama keisuke. Sikap jinnai-san kemarin pasti karena sayang kan?”
“ entahlah. Apa bisa dibilang begitu.”

“ pasti begitu. Dulu kei selalu menceritakan tentang jinnai-san di suratnya. Tapi anehnya, kei sama sekali tidak pernah menyebutkan nama jinnai-san. Kei begitu kagum pada jinnai-san yang ceria. Walau berisik, jinnai-san selalu bisa memperbaiki mood anggota tim, terutama kei. Mungkin yang merasa bersalah justru kei. Karena meninggalkan jinnai-san secara tiba-tiba.”

Perlahan jinnai mengangkat wajahnya memandang daisuke, yang dibalas dengan senyuman oleh orang yang bersangkutan.

“ kei mengirim surat padaku beberapa hari sebelum dia meninggal. Mungkin firasat itu sudah kei rasakan. Dan aku baru sadar di surat itu, untuk pertama kalinya kei menyebut nama jinnai-san.” Daisuke merogoh saku celananya, dan mengeluarkan secarik kertas. “ ini surat terakhir kei. Kemarin, saat aku baca ulang, aku sadar kalau nama jinnai-san tertulis di dalamnya. Coba baca paragraph terakhir.”

Jinnai mengambil kertas yang disodorkan daisuke, ia membaca paragraph yang dikatakan daisuke. Tanpa sadar air mata jinnai mengalir. Makin lama makin deras.

Sou da dai-nyan. Dulu aku sempat cerita tentang partner doublesku kan? Entah kenapa aku merasa akan meninggalkannya jauh. Apa mungkin aku akan di rekrut jadi pemain tennis pro jepang, sehingga aku harus pergi menjauh darinya? Haha.. Jadi, gantikanlah aku dan jadilah penopang sho. Sho no koto, tanomu ne.


“ kei…” nama itu keluar dari bibir jinnai.

Daisuke hanya bisa diam. Ia tak tahu harus bagaimana. Mungkin keputusan yang salah menunjukkan surat itu pada jinnai. Tapi, ia merasa harus melakukannya.
“ jinnai-san…” panggil daisuke dengan suara lembutnya. Ia menyodorkan tangannya. “ kore kara, yoroshiku…”

Perlahan, jinnai meraih tangan daisuke. Kemudian ia menarik tangan itu, dan memeluk daisuke. Daisuke yang awalnya kaget, akhirnya balas memeluk jinnai. Ia tahu, pria itu sedang menangis di pelukannya.
==========
“ Ohayouuu~ dane~” ujar jinnai riang sambil memasuki ruang klub.
Anggota klub yang ada di ruangan itu terkejut melihat perubahan sikap drastic jinnai. Bahkan okubo sampa menjatuhkan kertas berisi menu latihan hari ini. Sedangkan seiya menjatuhkan raket yang ia ambil dari tas saking kagetnya.

“ doushita dane~? Ada yang salah?” jinnai yang tak merasa melakukan suatu yang aneh, memeriksa sekujur tubuhnya. “ aku nggak bau kan? Apa pakaianku aneh ya?”

“ perubahan sikapmu yang buat mereka aneh, jinshan.” Ujar seseorang dari belakang jinnai.
“ aah, dai-nyan. Ohayou dane~” jinnai menoleh ke arah datangnya daisuke dan menyapanya.

“ ohayou. Lebih baik jinshan menjelaskan semuanya ke seluruh anggota tim. Daripada mereka bengong begitu.” Saran daisuke.

“ sou dane~” jinnai mengalihkan pandangannya dari daisuke menuju semua anggota tim yang masih terpaku di posisi masing-masing. Jinnai menundukkan kepalanya. “ maaf, sudah bikin kalian repot dan khawatir. Mungkin ini mendadak, tapi, aku sudah minta ijin kenta untuk menjadikan daisuke sebagai tim inti, dan juga…… partner doubles-ku..”

“ eh? Hountou?” ujar okubo meyakinkan. Jinnai mengangguk sambil menyunggingkan senyum pada okubo.

“ ya… yattaaaaa~~” teriak okubo sambil berlari menuju jinnai dan memeluknya. Diikuti anggota lain yang sudah kembali ke realita. Satu persatu mereka menyalami jinnai dan daisuke. Kenta yang sedari tadi mendengar pembicaraan dari luar ruang klub hanya bisa tersenyum. “ okaeri, jinnai..” gumamnya sebelum ia masuk ke ruang klub dan meneriaki semua anggota untuk berlatih di lapangan.

“ aku tak sangka kau berhasil membujuknya kembali ke klub.” Komentar kenta pada daisuke yang duduk di sebelahnya saat istirahat. Sedangkan jinnai sedang asik berlatih tanding dengan seiya.

“ aku nggak berbuat apa-apa kok. Cuma bilang betapa kei kagum dengan keceriaan dan keberisikan jinshan. Saat aku bilang semua orang di klub menginginkan jinshan yang dulu, jinshan hanya tersenyum dan bilang “sou dane~ aku sudah merepotkan semua orang di klub. Terutama kenta.” Begitu. Dan beberapa menitnya, dia mulai mengakhiri kalimatnya dengan kata dane itu, dan mengajakku bertanding.”

“ hmm…. Ternyata dia memikirkanku juga. “Dane”ka~ itu memang trade marknya dari dulu.” Kenta tersenyum. “ lalu? Hasil tanding kalian seri?”
Daisuke memandang kenta. “ hee~ bukannya bucho juga menonton pertandingan itu? Walau tak terlihat, aku yakin bucho menonton pertandingan kami.”

“ ya ya, aku memang nonton. Dan, nggak salah aku mengajakmu untuk menemani jinnai sebagai pasangan doublesnya.”

“ karena aku saudara kembar kei?”
Kenta menggeleng. “ sejak awal aku tak pernah mengaitkanmu dengan keisuke. Daisuke yang kutahu, bisa membuat jinnai kembali menikmati tennis dengan caranya sendiri.”

Seusai latihan, jinnai bergegas mengganti bajunya. Tak lama kemudian, kenta masuk ke ruang ganti.

okaeri, tennis bu ni, jinshan.”
“ woo~ sudah lama sejak terakhir kali kau panggil namaku dengan panggilan itu.” Komentar jinnai yang dibalas dengan lemparan baju penuh keringat milik kenta, yang spontan ditepis jinnai hingga jatuh ke lantai.

“ oh iya, untuk pertandingan minggu depan, ini kan pertama kalinya kau dan daisuke bertanding sebagai pasangan doubles, mau coba melawanku dan okubo?” tawar kenta sambil berganti pakaian.

“ boleh juga. Aku belum terlalu paham seberapa besar kekuatan daisuke, dan jurus apa yang ia tahu. Idemu bagus juga.”

“ ya sudah, 2 hari lagi di latihan sore. Oke?”
“ oke bucho~”

“ aku pulang duluan.” Ujar kenta sambil meninggalkan ruang ganti. Tak seberapa lama, daisuke muncul.
“ sudah mau pulang?” tanyanya pada jinnai yang sudah selesai berganti baju, dan sedang mengikat tali sepatunya.

“ aa, aku sudah janji sama okubo dan seiya mau traktir takoyaki. Mau ikut?” tawarnya. Daisuke menggeleng pelan.
“ hari ini aku sudah janji mau pulang awal sama ayah. Kalian duluan aja, lain kali aku ikut.”

sou da, dainyan.” Jinnai yang hendak keluar dari ruang klub, berbalik dan memandang daisuke yang juga memandang jinnai. “ arigatou. Kimi to deatte, yokatta. Kore kara, yoroshiku… dane~

kochira koso, yoroshiku.”
=========
END

Err.. ada satu bagian yang "sesuatu" banget... XD
Pokoknya berhasil buat fanfic buat pasangan jinshan dan dai-nyan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar