Kimi to Deatte, Yokatta
(part3)
St. Rudolph pagi
ini masih tampak sepi. Tapi beberapa siswa sudah berlalu lalang di sekitaran
sekolah. Berbeda dengan biasanya, pagi ini klub tennis tampak sepi. Padahal
biasanya semua anggota tim baik cadangan maupun inti, sudah berkumpul di
lapangan untuk latihan pagi. Tapi, sosok seseorang yang belakangan jarang hadir
di ruang klub, tampak memasuki ruang ganti.
“ ah, ohayou,
jinnai…” sapa kenta pada jinnai yang baru masuk ke ruang ganti. Ia bersikap
seperti biasa. Seolah jinnai tidak pernah menghindari klub.
“ a… ohayou..”
jawab jinnai sambil mendekati loker bajunya.
“ loker itu sudah
beberapa bulan tak kau pakai, jadi masih berdebu. Okubo berkali-kali menawarkan
diri membersihkan lokermu, tapi aku tak mengijinkan. Entah jinnai yang lagi
marah, bakal semarah apa lagi kalau tahu benda miliknya disentuh orang lain
tanpa sepengetahuannya.” Jelas kenta. Ia menutup loker miliknya dan menghampiri
jinnai. “ aku senang kau akan kembali ke klub.” Kenta berlalu setelah menepuk
bahu jinnai.
Jinnai
menundukkan kepalanya. Merasa bersalah pada kenta yang selama ini selalu
memperhatikannya, tapi jinnai sendiri selalu menghindar dari kenta.
Setelah selesai
berganti pakaian, dan mengeluarkan raket dari tasnya, jinnai keluar ruang klub
dan menuju lapangan tennis. Tampak di tengah lapangan, kenta sedang asik
mengobrol dengan daisuke. Menyadari kedatangan jinnai, mereka menghentikan
pembicaraan, dan serempak tersenyum pada jinnai yang tampak malu disenyumi
seperti itu.
“ sesuai janji,
pagi ini tidak ada latihan, dan anggota lain aku larang ke sini. Aku harap kau
dan hirose bisa bertanding dengan santai.” Ujar kenta.
Semalam, jinnai
minta ijin kenta agar ia mengijinkan dirinya bertanding dengan daisuke. Awalnya
kenta kaget dan agak ragu tapi mendengar kata “aku mohon” dari jinnai, entah
kenapa kenta langsung mengijinkannya.
“ nah, silakan
bertanding. Self judge saja. Aku mau
menghadap pelatih dulu” setelah menepuk bahu daisuke dan jinnai bergantian,
kenta meninggalkan lapangan tennis.
Suasana sepi
sesaat setelah kenta menghilang di belokan kantin. Jinnai bingung bagaimana
harus memulai, mengingat ia sudah berkata kasar pada daisuke kemarin.
“ ano, hirose…”
jinnai mencoba memulai pembicaraan.
“ daisuke de ii. Jangan formal begitu.
Kita kan satu klub tennis. Apalagi dulu saudaraku partner doublesmu” Daisuke
tersenyum.
Detik berikutnya,
jinnai sudah berlutut di hadapan daisuke. Melihat tindak spontan jinnai,
daisuke panik dan jongkok. Mencoba menarik tangan jinnai supaya orang yang
bersangkutan bangun. Apa daya, tangan kurus daisuke tak mampu mengangkat jinnai
yang bersikeras pada posisinya.
“ mou,
jinnai-san… jangan begini.”
“ gomen.” Hanya
itu kata yang berhasil diucapkan jinnai.
“ nan no koto?”
“ sikapku
kemarin. Juga sikapku pada keisuke.”
“ jinnai-san
nggak salah kok. Aku tahu kalau jinnai-san pasti sayang sekali sama keisuke.
Sikap jinnai-san kemarin pasti karena sayang kan?”
“ entahlah. Apa bisa dibilang begitu.”
“ entahlah. Apa bisa dibilang begitu.”
“ pasti begitu.
Dulu kei selalu menceritakan tentang jinnai-san di suratnya. Tapi anehnya, kei
sama sekali tidak pernah menyebutkan nama jinnai-san. Kei begitu kagum pada
jinnai-san yang ceria. Walau berisik, jinnai-san selalu bisa memperbaiki mood anggota tim, terutama kei. Mungkin
yang merasa bersalah justru kei. Karena meninggalkan jinnai-san secara
tiba-tiba.”
Perlahan jinnai
mengangkat wajahnya memandang daisuke, yang dibalas dengan senyuman oleh orang
yang bersangkutan.
“ kei mengirim
surat padaku beberapa hari sebelum dia meninggal. Mungkin firasat itu sudah kei
rasakan. Dan aku baru sadar di surat itu, untuk pertama kalinya kei menyebut
nama jinnai-san.” Daisuke merogoh saku celananya, dan mengeluarkan secarik
kertas. “ ini surat terakhir kei. Kemarin, saat aku baca ulang, aku sadar kalau
nama jinnai-san tertulis di dalamnya. Coba baca paragraph terakhir.”
Jinnai mengambil
kertas yang disodorkan daisuke, ia membaca paragraph yang dikatakan daisuke.
Tanpa sadar air mata jinnai mengalir. Makin lama makin deras.
Sou
da dai-nyan. Dulu aku sempat cerita tentang partner doublesku kan? Entah kenapa
aku merasa akan meninggalkannya jauh. Apa mungkin aku akan di rekrut jadi pemain
tennis pro jepang, sehingga aku harus pergi menjauh darinya? Haha.. Jadi,
gantikanlah aku dan jadilah penopang sho. Sho no koto, tanomu ne.
“ kei…” nama itu
keluar dari bibir jinnai.
Daisuke hanya
bisa diam. Ia tak tahu harus bagaimana. Mungkin keputusan yang salah
menunjukkan surat itu pada jinnai. Tapi, ia merasa harus melakukannya.
“ jinnai-san…”
panggil daisuke dengan suara lembutnya. Ia menyodorkan tangannya. “ kore kara,
yoroshiku…”
Perlahan, jinnai
meraih tangan daisuke. Kemudian ia menarik tangan itu, dan memeluk daisuke.
Daisuke yang awalnya kaget, akhirnya balas memeluk jinnai. Ia tahu, pria itu
sedang menangis di pelukannya.
==========
“ Ohayouuu~
dane~” ujar jinnai riang sambil memasuki ruang klub.
Anggota klub yang
ada di ruangan itu terkejut melihat perubahan sikap drastic jinnai. Bahkan
okubo sampa menjatuhkan kertas berisi menu latihan hari ini. Sedangkan seiya
menjatuhkan raket yang ia ambil dari tas saking kagetnya.
“ doushita dane~?
Ada yang salah?” jinnai yang tak merasa melakukan suatu yang aneh, memeriksa
sekujur tubuhnya. “ aku nggak bau kan? Apa pakaianku aneh ya?”
“ perubahan
sikapmu yang buat mereka aneh, jinshan.” Ujar seseorang dari belakang jinnai.
“ aah, dai-nyan. Ohayou
dane~” jinnai menoleh ke arah datangnya daisuke dan menyapanya.
“ ohayou. Lebih
baik jinshan menjelaskan semuanya ke seluruh anggota tim. Daripada mereka
bengong begitu.” Saran daisuke.
“ sou dane~”
jinnai mengalihkan pandangannya dari daisuke menuju semua anggota tim yang
masih terpaku di posisi masing-masing. Jinnai menundukkan kepalanya. “ maaf,
sudah bikin kalian repot dan khawatir. Mungkin ini mendadak, tapi, aku sudah
minta ijin kenta untuk menjadikan daisuke sebagai tim inti, dan juga…… partner
doubles-ku..”
“ eh? Hountou?” ujar okubo meyakinkan. Jinnai
mengangguk sambil menyunggingkan senyum pada okubo.
“ ya…
yattaaaaa~~” teriak okubo sambil berlari menuju jinnai dan memeluknya. Diikuti
anggota lain yang sudah kembali ke realita. Satu persatu mereka menyalami
jinnai dan daisuke. Kenta yang sedari tadi mendengar pembicaraan dari luar
ruang klub hanya bisa tersenyum. “ okaeri, jinnai..” gumamnya sebelum ia masuk
ke ruang klub dan meneriaki semua anggota untuk berlatih di lapangan.
“ aku tak sangka
kau berhasil membujuknya kembali ke klub.” Komentar kenta pada daisuke yang
duduk di sebelahnya saat istirahat. Sedangkan jinnai sedang asik berlatih
tanding dengan seiya.
“ aku nggak
berbuat apa-apa kok. Cuma bilang betapa kei kagum dengan keceriaan dan
keberisikan jinshan. Saat aku bilang semua orang di klub menginginkan jinshan
yang dulu, jinshan hanya tersenyum dan bilang “sou dane~ aku sudah merepotkan semua orang di klub. Terutama kenta.” Begitu.
Dan beberapa menitnya, dia mulai mengakhiri kalimatnya dengan kata dane itu,
dan mengajakku bertanding.”
“ hmm…. Ternyata
dia memikirkanku juga. “Dane”ka~ itu memang trade marknya dari dulu.” Kenta
tersenyum. “ lalu? Hasil tanding kalian seri?”
Daisuke memandang
kenta. “ hee~ bukannya bucho juga menonton pertandingan itu? Walau tak
terlihat, aku yakin bucho menonton pertandingan kami.”
“ ya ya, aku
memang nonton. Dan, nggak salah aku mengajakmu untuk menemani jinnai sebagai
pasangan doublesnya.”
“ karena aku
saudara kembar kei?”
Kenta menggeleng.
“ sejak awal aku tak pernah mengaitkanmu dengan keisuke. Daisuke yang kutahu,
bisa membuat jinnai kembali menikmati tennis dengan caranya sendiri.”
Seusai latihan,
jinnai bergegas mengganti bajunya. Tak lama kemudian, kenta masuk ke ruang
ganti.
“ okaeri, tennis
bu ni, jinshan.”
“ woo~ sudah lama
sejak terakhir kali kau panggil namaku dengan panggilan itu.” Komentar jinnai
yang dibalas dengan lemparan baju penuh keringat milik kenta, yang spontan
ditepis jinnai hingga jatuh ke lantai.
“ oh iya, untuk
pertandingan minggu depan, ini kan pertama kalinya kau dan daisuke bertanding
sebagai pasangan doubles, mau coba melawanku dan okubo?” tawar kenta sambil
berganti pakaian.
“ boleh juga. Aku
belum terlalu paham seberapa besar kekuatan daisuke, dan jurus apa yang ia
tahu. Idemu bagus juga.”
“ ya sudah, 2
hari lagi di latihan sore. Oke?”
“ oke bucho~”
“ oke bucho~”
“ aku pulang
duluan.” Ujar kenta sambil meninggalkan ruang ganti. Tak seberapa lama, daisuke
muncul.
“ sudah mau
pulang?” tanyanya pada jinnai yang sudah selesai berganti baju, dan sedang
mengikat tali sepatunya.
“ aa, aku sudah
janji sama okubo dan seiya mau traktir takoyaki. Mau ikut?” tawarnya. Daisuke
menggeleng pelan.
“ hari ini aku
sudah janji mau pulang awal sama ayah. Kalian duluan aja, lain kali aku ikut.”
“ sou da,
dainyan.” Jinnai yang hendak keluar dari ruang klub, berbalik dan memandang
daisuke yang juga memandang jinnai. “ arigatou. Kimi to deatte, yokatta. Kore
kara, yoroshiku… dane~”
“ kochira koso,
yoroshiku.”
=========
END
Err.. ada satu bagian yang "sesuatu" banget... XD
Pokoknya berhasil buat fanfic buat pasangan jinshan dan dai-nyan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar