Kamis, 17 Mei 2012

[Fanfic] Jinnai-Daisuke - Kimi To Deatte, Yokatta~(part1)

Cast : Jinnai Sho, Hirose Daisuke, Izuka Kenta, dan Cast Seiru lainnya, Hirose Keisuke ( tokoh buatan)
Note : OOC banget. belum mengenal jinshan sama dai-nyan lebih dalam, jadilah seperti ini. nyampur antara cerita di anime, manga, dan musical Prince of Tennis, plus khayalan pribadi. XD Gajelah pokoknya...


Kimi to Deatte, Yokkatta



St. Rudolph gakuin. Sekolah yang lumayan elit yang terletak di dekat pusat keramaian kota. Sekolah yang luasnya berhektar-hektar itu dihuni oleh para siswa dan siswi berbakat. Untuk mengenmbangkan bakat itulah, terkadang para siswa mengikuti kegiatan ekstrakulikuler sepulang sekolah. Mari persempit wilayah dengan melirik klub tennis di sini. Klub yang di pimpin  Izuka Kenta itu memang baru beberapa tahun lalu dibentuk. Tapi jangan salah, sudah berkali-kali sekolah mereka menjuarai beberapa turnamen. Seperti klub tennis kebanyakan, pemain klub tennis st.rudolph dibagi menjadi 2, cadangan dan inti. Tahun ini, kembali dibuka penerimaan anggota baru.

“ wah, tahun ini banyak yang daftar ya…” gumam salah satu anggota cadangan saat melihat tumpukan selebaran kertas permohonan masuk klub. “ hm? Hirose? Hirose daisuke…. Sepertinya pernah dengar..” komentarnya saat melihat salah satu profil calon anggota baru. Ia masih penasaran dengan nama itu, tapi pikirannya terhenti karena teriakan kapten klub tennis yang meminta semua anggotanya berkumpul di lapangan.
“ hari ini, atau tepatnya 30 menit lagi” ujar Kenta sambil melirik jam tangannya, “ sebentar lagi, para siswa baru di arahkan untuk mengunjungi klub yang akan ia masuki, dan kita, sebagai klub tennis, hanya melakukan latihan seperti biasa. Hanya saja, aku minta okubo, dan seiya menjaga tempat informasi. Dan seandainya ada yang ingin mencoba bertanding, laporkan padaku. Mengerti!”

“ mengerti!!” jawab seluruh anggota tenis bersamaan.

“ mm…. gomen Kenta-san… tapi, jinnai belum datang.” Lapor okubo.

“ hhh…” Kenta mengeluh nafas panjang. “ kemana lagi dia? Ya sudah, aku pergi cari dia dulu, nanti kalau ada apa-apa minta yutaka menghubungiku” ujar Kenta sambil menggaruk kepalanya. Bingung. Entah bagaimana ia harus membujuk jinnai agar kembali ke klub tennis.

Jinnai sho, salah satu pemain doubles di tim inti. Sejak pasangan doublesnya meninggal karena kecelakaan saat akan menghadiri kejuaraan, jinnai selalu menghindari klub tennis. Kenta sempat mengira kalau jinnai berhenti dari klub. Tapi, dalam peraturan di st.rudolph, selama siswa yang bersangkutan tidak mengajukan surat pengunduran diri, siswa itu dianggap masih bagian dari klub itu.

Tentu saja Kenta pernah bertanya pada jinnai apakah ia masih ingin bergabung di tim inti atau tidak. Tapi jinnai hanya diam dan kemudian menjawab “ kalau kau menemukan pasangan doubles yang bisa menggantikannya, aku akan kembali ke klub”. Mendengar jawaban itu, Kenta sedikit gembira dan bingung. Kenapa? Kenta senang karena jinnai masih ingin bermain tennis. Tapi bingung bagaimana cara menemukan pasangan doubles yang cocok untuk jinnai yang lumayan pemilih.
Kenta sudah mencoba mencari jinnai mulai dari atap, sampai kantin tempat jinnai biasanya ada. Sayangnya, ia sama sekali tak menemukan sosok pria yang dulu selalu bangga dengan bibirnya itu. Menyerah, Kenta berpikir untuk kembali ke lapangan. Beberapa langkah sebelum memasuki ruang klub, seseorang memanggil Kenta dari kejauhan.
“ ooi, Kentaaa~~” teman sekelas Kenta mendekatinya. Dengan nafas yang tak teratur, ia mulai bicara. “ kamu dipanggil kepala sekolah. Beliau nunggu kamu di lapangan utara.”

Kenta diam. Untuk apa kepala sekolah mencarinya? “ oke, thanks infonya” ujar Kenta akhirnya. Iapun segera berlari ke lapangan utara. Sebelum berbelok ke lapangan, Kenta menemukan sosok yang sedari tadi dicarinya. “ Jinnai!!” teriaknya senang.

Orang yang bersangkutan tampaknya tak mendengar panggilan Kenta. Iapun mendekati orang itu, dan menepuk bahunya. Sadar ada orang di belakangnya, jinnai berbalik.

“ a, Kenta ka…” ujarnya sambil menarik ujung bibirnya. Berusaha tersenyum.

“ apa itu responmu? Aku sudah kirim email kan kemarin? Aku ingin kamu hadir saat penerimaan anggota baru hari ini. Sebentar lagi mulai lho.”

Jinnai tersenyum sejenak. Senyum yang dipaksakan. Kenta tahu itu.
Jinnai menghela nafas. “ untuk apa?”

“ bukannya kau ingin menemukan partner baru? Siapa tahu di antara calon anggota, ada yang sesuai dengan yang kau cari.”

“ huh.” Jinnai mengalihkan pandangannya dari Kenta ke lapangan hijau yang ada di depannya. “ ternyata kamu serius dengan ucapanku dulu ya..”
“ tentu saja. Kita masuk klub tennis bersama, aku nggak mau kamu berhenti main tennis hanya karena…”

“ maaf Kenta…” jinnai memotong omongan Kenta. “ dia teman bermain tennis sejak aku kecil. Memikirkan bagaimana aku bermain tennis tanpa dia, aku nggak bisa bergerak. Tanpa dia, aku nggak bisa main tennis. Mungkin kau tak akan ngerti, bagaimana rasanya kehilangan setengah jiwa tennismu”

“ itu hanya setengah kan?” Kenta ngotot. “ berati setidaknya, setengahnya lagi, masih ada keinginanmu untuk main tennis kan?”

Jinnai memandang Kenta. Agak lama, hingga ia kembali mengalihkan pandangannya ke lapangan hijau. “ muri da.” Ujarnya kemudian.

Kenta mulai kehabisan akal untuk membujuk pria di depannya itu. “ oke. Baiklah kalau kamu memang keras kepala. Yang jelas, aku masih mengharap kamu merubah pikiranmu dan datang ke lapangan tennis hari ini. Aku akan selalu menerima kedatanganmu. Dah..” Kenta berlari meninggalkan jinnai yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

“ seandainya kamu ngerasain apa yang kurasa, apa kamu masih bisa berkata seperti itu?” gumam jinnai tanpa melepaskan pandangannya dari lapangan hijau yang membentang di depan matanya.

anoo~” gumam seseorang di belakang jinnai. Iapun berbalik dan melihat seorang pria kurus mengenakan hachimaki merah. Dari raket tennis yang sedang dipegangnya, jinnai tahu kalau orang itu calon anggota baru. “ aku anak pindahan, mau gabung ke klub tennis tapi nggak tahu dimana lapangannya. Bisa tolong jelaskan arahnya padaku?” tanyanya. Jinnai beranjak dari tempat duduknya, dan memandang anak pindahan itu.

Ia sedikit terkejut melihat wajah murid pindahan itu. Senyum yang tampak familiar di ingatannya.

Tak kunjung dijawab juga, murid pindahan itu mendekati jinnai, dan mengibaskan tangannya di depan wajah jinnai yang bengong.

anoo~” gumamnya sekali lagi.

“ a… aah… maaf…” jinnai tersadar dari lamunannya. “ ah, lapangan tennis ya. Mm… kebetulan aku mau ke sana, mau sekalian?” tawar jinnai tiba-tiba. Sesaat kemudian ia sadar akan omongannya. “ eh… emm… maaf, kamu jalan aja lurus, di sebelah kantin belok kiri, dari sana sudah kelihatan kok lapangan tennisnya…” lanjut jinnai tanpa memandang wajah murid pindahan itu.

“ lho? Kamu nggak jadi ikut ke lapangan tennis? Kamu anggota tennis juga ya?” tanyanya polos.

Jinnai tak segera menjawab. “ lebih baik kamu segera kesana. Pendaftarannya tutup sebentar lagi.” Sarannya.

Murid pindahan itu melirik jam tangannya. “ yabai! Makasih ya. Em.. boleh tahu namamu siapa? Kamu anggota klub tennis juga kan? Siapa tahu kita bisa bareng.”

“ jinnai…. Jinnai sho.”

jinnai-san ka…. Arigatou, jinnai-san. Ah, namaku hirose daisuke. Yoroshiku… mata ne~” daisuke berlari meninggalkan jinnai, tanpa tahu orang yang bersangkutan terkejut mendengar namanya.

“ h..hirose? masaka?” gumamnya setelah daisuke menghilang di belokan dekat kantin. Tanpa sadar, jinnai melangkahkan kakinya menuju lapangan tennis. Okubo yang menyadari sosok jinnai di salah satu sisi luar lapangan tennis, segera menghampiri anggota tim inti tersebut.

“ jinshan!?” sapanya. Jinnai tampak kaget melihat okubo ada di sebelahnya.

“ ngapain di sini? Kenapa nggak masuk aja? Kapten pasti senang jinshan datang.” Dengan polos okubo menarik tangan jinnai, tapi segera ditepisnya.
“ aku kesini bukannya mau memenuhi undangan Kenta.” Jinnai membalikkan badannya, dan meninggalkan lapangan tennis dan okubo yang menunduk sedih. “ hirose? Nggak mungkin kan?” ujarnya dalam hati.

Jinnai menghabiskan waktu selama pendaftaran klub untuk siswa baru dengan tidur di atap sekolah. Tanpa terasa matahari mulai tenggelam, dan saat jinnai bangun dari tidurnya, ia mendapati langit berwarna orange. Iapun mengambil handphone dari saku celananya, dan melihat jam di handphone-nya.

“ sudah jam segini toh. Jya, kaerou kanaa~” gumamnya. Iapun meninggalkan atap sekolah.

Mendekati gerbang, ia mendengar suara dari arah lapangan tennis. “ apa pendaftarannya masih buka?” tebak jinnai. Penasaran, iapun mendekat ke lapangan tennis. Bukan Kenta maupun pemain inti yang ia lihat, tapi sosok yang sedari tadi membuatnya penasaran. Seseorang yang memperkenalkan dirinya hirose daisuke.

“ bukan begitu cara pegang raketnya. Kalau seperti itu, pukulanmu akan semakin rendah” tanpa sadar jinnai sudah masuk ke lapangan tennis, dan menyapa daisuke.

“ jinnai san!?” daisuke tampak kaget melihat jinnai sudah ada di belakangnya. “ kenapa belum pulang?”
“ seharusnya aku yang bertanya. Bukannya seharusnya calon anggota baru sudah pulang dari tadi?”
Daisuke diam menatap jinnai yang kini duduk di sebelah keranjang bola. Daisuke menghampiri jinnai dan duduk di sebelahnya. “ tadi aku mencoba bertanding dengan Kenta bucho. Aku rasa selama ini tekhnikku sudah benar. Walau awalnya aku bukan pemain tennis, tapi seseorang mengajarku beberapa tekhnik. Di sekolahku yang lama, aku bisa mengalahkan semua tim inti-nya. Tapi, saat aku mencoba bertanding dengan Kenta bucho….”

“ kau kalah” tebak jinnai. Daisuke mengangguk perlahan.
tokorode, jinnai-san anggota klub tennis?”
Jinnai kembali diam. Sedikit tidak mengerti kenapa anak ini berkali-kali bertanya dia anggota klub tennis. “ iya. Tapi belakangan aku berfikir untuk berhenti.” Jawaban itu mengalir begitu saja dari mulut jinnai.

“ eh? Kenapa? Apa tennis itu nggak menarik untuk jinnai-san?”
Jinnai memandang daisuke yang tampak penasaran. “ mirip” gumamnya tanpa sadar.

“ eh?”
Jinnai tersenyum. “ bagaimana kalau kau coba lawan aku?” jinnai mencoba mengalihkan pembicaraan.

“eh?”
Jinnai mengambil raket yang terletak di sebelah net. “ ini punyamu? Untuk seukuran tennis pemula, kamu lumayan banyak bawa raket ya.” Komentar jinnai saat melihat tas daisuke yang terletak tak jauh dari net.
“ aku di ajarkan begitu dulu. Katanya, raket cadangan itu harus selalu ada. Dia juga nggak pernah bawa satu raket. Selalu 3.”

“ dia juga…”
“ eh?”
“ ah… bukan apa-apa. Ayo main one match


==========
To Be Continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar