Note : OOC banget. belum mengenal jinshan sama dai-nyan lebih dalam, jadilah seperti ini. nyampur antara cerita di anime, manga, dan musical Prince of Tennis, plus khayalan pribadi. XD Gajelah pokoknya...
Kimi to Deatte, Yokkatta
St.
Rudolph gakuin. Sekolah yang lumayan elit yang terletak di dekat pusat
keramaian kota. Sekolah yang luasnya berhektar-hektar itu dihuni oleh para
siswa dan siswi berbakat. Untuk mengenmbangkan bakat itulah, terkadang para
siswa mengikuti kegiatan ekstrakulikuler sepulang sekolah. Mari persempit
wilayah dengan melirik klub tennis di sini. Klub yang di pimpin Izuka Kenta itu memang baru beberapa tahun
lalu dibentuk. Tapi jangan salah, sudah berkali-kali sekolah mereka menjuarai
beberapa turnamen. Seperti klub tennis kebanyakan, pemain klub tennis
st.rudolph dibagi menjadi 2, cadangan dan inti. Tahun ini, kembali dibuka
penerimaan anggota baru.
“
wah, tahun ini banyak yang daftar ya…” gumam salah satu anggota cadangan saat
melihat tumpukan selebaran kertas permohonan masuk klub. “ hm? Hirose? Hirose
daisuke…. Sepertinya pernah dengar..” komentarnya saat melihat salah satu
profil calon anggota baru. Ia masih penasaran dengan nama itu, tapi pikirannya
terhenti karena teriakan kapten klub tennis yang meminta semua anggotanya
berkumpul di lapangan.
“
hari ini, atau tepatnya 30 menit lagi” ujar Kenta sambil melirik jam tangannya,
“ sebentar lagi, para siswa baru di arahkan untuk mengunjungi klub yang akan ia
masuki, dan kita, sebagai klub tennis, hanya melakukan latihan seperti biasa.
Hanya saja, aku minta okubo, dan seiya menjaga tempat informasi. Dan seandainya
ada yang ingin mencoba bertanding, laporkan padaku. Mengerti!”
“ mengerti!!”
jawab seluruh anggota tenis bersamaan.
“ mm…. gomen Kenta-san… tapi, jinnai belum datang.” Lapor okubo.
“
hhh…” Kenta mengeluh nafas panjang. “ kemana lagi dia? Ya sudah, aku pergi cari
dia dulu, nanti kalau ada apa-apa minta yutaka menghubungiku” ujar Kenta sambil
menggaruk kepalanya. Bingung. Entah bagaimana ia harus membujuk jinnai agar
kembali ke klub tennis.
Jinnai sho, salah
satu pemain doubles di tim inti. Sejak pasangan doublesnya meninggal karena kecelakaan saat akan menghadiri
kejuaraan, jinnai selalu menghindari klub tennis. Kenta sempat mengira kalau
jinnai berhenti dari klub. Tapi, dalam peraturan di st.rudolph, selama siswa
yang bersangkutan tidak mengajukan surat pengunduran diri, siswa itu dianggap
masih bagian dari klub itu.
Tentu
saja Kenta pernah bertanya pada jinnai apakah ia masih ingin bergabung di tim
inti atau tidak. Tapi jinnai hanya diam dan kemudian menjawab “ kalau kau
menemukan pasangan doubles yang bisa
menggantikannya, aku akan kembali ke klub”. Mendengar jawaban itu, Kenta
sedikit gembira dan bingung. Kenapa? Kenta senang karena jinnai masih ingin
bermain tennis. Tapi bingung bagaimana cara menemukan pasangan doubles yang cocok untuk jinnai yang
lumayan pemilih.
Kenta
sudah mencoba mencari jinnai mulai dari atap, sampai kantin tempat jinnai
biasanya ada. Sayangnya, ia sama sekali tak menemukan sosok pria yang dulu
selalu bangga dengan bibirnya itu. Menyerah, Kenta berpikir untuk kembali ke
lapangan. Beberapa langkah sebelum memasuki ruang klub, seseorang memanggil Kenta
dari kejauhan.
“
ooi, Kentaaa~~” teman sekelas Kenta mendekatinya. Dengan nafas yang tak
teratur, ia mulai bicara. “ kamu dipanggil kepala sekolah. Beliau nunggu kamu
di lapangan utara.”
Kenta diam. Untuk
apa kepala sekolah mencarinya? “ oke, thanks
infonya” ujar Kenta akhirnya. Iapun segera berlari ke lapangan utara. Sebelum
berbelok ke lapangan, Kenta menemukan sosok yang sedari tadi dicarinya. “
Jinnai!!” teriaknya senang.
Orang yang
bersangkutan tampaknya tak mendengar panggilan Kenta. Iapun mendekati orang
itu, dan menepuk bahunya. Sadar ada orang di belakangnya, jinnai berbalik.
“ a, Kenta ka…”
ujarnya sambil menarik ujung bibirnya. Berusaha tersenyum.
“ apa itu
responmu? Aku sudah kirim email kan kemarin? Aku ingin kamu hadir saat
penerimaan anggota baru hari ini. Sebentar lagi mulai lho.”
Jinnai tersenyum
sejenak. Senyum yang dipaksakan. Kenta tahu itu.
Jinnai menghela
nafas. “ untuk apa?”
“ bukannya kau
ingin menemukan partner baru? Siapa tahu di antara calon anggota, ada yang
sesuai dengan yang kau cari.”
“
huh.” Jinnai mengalihkan pandangannya dari Kenta ke lapangan hijau yang ada di
depannya. “ ternyata kamu serius dengan ucapanku dulu ya..”
“
tentu saja. Kita masuk klub tennis bersama, aku nggak mau kamu berhenti main
tennis hanya karena…”
“ maaf Kenta…”
jinnai memotong omongan Kenta. “ dia teman bermain tennis sejak aku kecil.
Memikirkan bagaimana aku bermain tennis tanpa dia, aku nggak bisa bergerak.
Tanpa dia, aku nggak bisa main tennis. Mungkin kau tak akan ngerti, bagaimana
rasanya kehilangan setengah jiwa tennismu”
“ itu hanya
setengah kan?” Kenta ngotot. “ berati setidaknya, setengahnya lagi, masih ada
keinginanmu untuk main tennis kan?”
Jinnai memandang Kenta.
Agak lama, hingga ia kembali mengalihkan pandangannya ke lapangan hijau. “ muri da.” Ujarnya kemudian.
Kenta
mulai kehabisan akal untuk membujuk pria di depannya itu. “ oke. Baiklah kalau
kamu memang keras kepala. Yang jelas, aku masih mengharap kamu merubah
pikiranmu dan datang ke lapangan tennis hari ini. Aku akan selalu menerima
kedatanganmu. Dah..” Kenta berlari meninggalkan jinnai yang masih sibuk dengan
pikirannya sendiri.
“
seandainya kamu ngerasain apa yang kurasa, apa kamu masih bisa berkata seperti
itu?” gumam jinnai tanpa melepaskan pandangannya dari lapangan hijau yang
membentang di depan matanya.
“ anoo~” gumam seseorang di belakang
jinnai. Iapun berbalik dan melihat seorang pria kurus mengenakan hachimaki merah. Dari raket tennis yang
sedang dipegangnya, jinnai tahu kalau orang itu calon anggota baru. “ aku anak
pindahan, mau gabung ke klub tennis tapi nggak tahu dimana lapangannya. Bisa
tolong jelaskan arahnya padaku?” tanyanya. Jinnai beranjak dari tempat
duduknya, dan memandang anak pindahan itu.
Ia sedikit
terkejut melihat wajah murid pindahan itu. Senyum yang tampak familiar di
ingatannya.
Tak kunjung
dijawab juga, murid pindahan itu mendekati jinnai, dan mengibaskan tangannya di
depan wajah jinnai yang bengong.
“ anoo~” gumamnya sekali lagi.
“ a… aah… maaf…”
jinnai tersadar dari lamunannya. “ ah, lapangan tennis ya. Mm… kebetulan aku
mau ke sana, mau sekalian?” tawar jinnai tiba-tiba. Sesaat kemudian ia sadar
akan omongannya. “ eh… emm… maaf, kamu jalan aja lurus, di sebelah kantin belok
kiri, dari sana sudah kelihatan kok lapangan tennisnya…” lanjut jinnai tanpa
memandang wajah murid pindahan itu.
“ lho? Kamu nggak
jadi ikut ke lapangan tennis? Kamu anggota tennis juga ya?” tanyanya polos.
Jinnai tak segera
menjawab. “ lebih baik kamu segera kesana. Pendaftarannya tutup sebentar lagi.”
Sarannya.
Murid pindahan
itu melirik jam tangannya. “ yabai!
Makasih ya. Em.. boleh tahu namamu siapa? Kamu anggota klub tennis juga kan?
Siapa tahu kita bisa bareng.”
“ jinnai…. Jinnai
sho.”
“
jinnai-san ka…. Arigatou, jinnai-san. Ah, namaku hirose daisuke. Yoroshiku… mata ne~” daisuke berlari
meninggalkan jinnai, tanpa tahu orang yang bersangkutan terkejut mendengar
namanya.
“ h..hirose? masaka?” gumamnya setelah daisuke
menghilang di belokan dekat kantin. Tanpa sadar, jinnai melangkahkan kakinya
menuju lapangan tennis. Okubo yang menyadari sosok jinnai di salah satu sisi
luar lapangan tennis, segera menghampiri anggota tim inti tersebut.
“ jinshan!?”
sapanya. Jinnai tampak kaget melihat okubo ada di sebelahnya.
“
ngapain di sini? Kenapa nggak masuk aja? Kapten pasti senang jinshan datang.”
Dengan polos okubo menarik tangan jinnai, tapi segera ditepisnya.
“
aku kesini bukannya mau memenuhi undangan Kenta.” Jinnai membalikkan badannya,
dan meninggalkan lapangan tennis dan okubo yang menunduk sedih. “ hirose? Nggak
mungkin kan?” ujarnya dalam hati.
Jinnai
menghabiskan waktu selama pendaftaran klub untuk siswa baru dengan tidur di
atap sekolah. Tanpa terasa matahari mulai tenggelam, dan saat jinnai bangun
dari tidurnya, ia mendapati langit berwarna orange. Iapun mengambil handphone
dari saku celananya, dan melihat jam di handphone-nya.
“ sudah jam
segini toh. Jya, kaerou kanaa~”
gumamnya. Iapun meninggalkan atap sekolah.
Mendekati
gerbang, ia mendengar suara dari arah lapangan tennis. “ apa pendaftarannya
masih buka?” tebak jinnai. Penasaran, iapun mendekat ke lapangan tennis. Bukan Kenta
maupun pemain inti yang ia lihat, tapi sosok yang sedari tadi membuatnya
penasaran. Seseorang yang memperkenalkan dirinya hirose daisuke.
“ bukan begitu
cara pegang raketnya. Kalau seperti itu, pukulanmu akan semakin rendah” tanpa
sadar jinnai sudah masuk ke lapangan tennis, dan menyapa daisuke.
“
jinnai san!?” daisuke tampak kaget melihat jinnai sudah ada di belakangnya. “
kenapa belum pulang?”
“
seharusnya aku yang bertanya. Bukannya seharusnya calon anggota baru sudah
pulang dari tadi?”
Daisuke diam
menatap jinnai yang kini duduk di sebelah keranjang bola. Daisuke menghampiri
jinnai dan duduk di sebelahnya. “ tadi aku mencoba bertanding dengan Kenta
bucho. Aku rasa selama ini tekhnikku sudah benar. Walau awalnya aku bukan
pemain tennis, tapi seseorang mengajarku beberapa tekhnik. Di sekolahku yang
lama, aku bisa mengalahkan semua tim inti-nya. Tapi, saat aku mencoba
bertanding dengan Kenta bucho….”
“ kau kalah”
tebak jinnai. Daisuke mengangguk perlahan.
“ tokorode, jinnai-san anggota klub
tennis?”
Jinnai kembali
diam. Sedikit tidak mengerti kenapa anak ini berkali-kali bertanya dia anggota
klub tennis. “ iya. Tapi belakangan aku berfikir untuk berhenti.” Jawaban itu
mengalir begitu saja dari mulut jinnai.
“ eh? Kenapa? Apa
tennis itu nggak menarik untuk jinnai-san?”
Jinnai memandang
daisuke yang tampak penasaran. “ mirip” gumamnya tanpa sadar.
“ eh?”
Jinnai tersenyum.
“ bagaimana kalau kau coba lawan aku?” jinnai mencoba mengalihkan pembicaraan.
“eh?”
Jinnai mengambil
raket yang terletak di sebelah net. “ ini punyamu? Untuk seukuran tennis
pemula, kamu lumayan banyak bawa raket ya.” Komentar jinnai saat melihat tas
daisuke yang terletak tak jauh dari net.
“ aku di ajarkan
begitu dulu. Katanya, raket cadangan itu harus selalu ada. Dia juga nggak
pernah bawa satu raket. Selalu 3.”
“ dia juga…”
“ eh?”
“ ah… bukan
apa-apa. Ayo main one match”
==========
To Be Continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar