Kimi to Deatte, Yokatta
(Part2)
Kenta masih di
ruang klub. Masih memikirkan bagaimana membujuk jinnai agar kembali ke klub. “
orang yang seperti itu? Kenapa dia nggak coba berpasangan dengan yang lain? Apa
orang itu sama sekali tak bisa tergantikan?” pertanyaan itu terus berkelebat di
pikirannya.
Samar-samar, ia
mendengar bunyi bola dari lapangan tennis. Bermaksud untuk menegur seseorang
yang menggunakan lapangan tanpa ijinnya seusai klub, Kenta kaget melihat 2
orang yang sedang bertanding di lapangan.
“
ji… jinnai?” gumamnya tak percaya, melihat sosok jinnai bertanding dengan
seseorang. Tak jelas melihat wajah lawan jinnai, Kenta mendekat dengan
perlahan. Berharap kehadirannya tak disadari oleh kedua orang itu. “ itu….
Murid pindahan itu bukan?” Kenta mencoba meyakinkan dirinya. “ kalau nggak
salah, namanya…..” Kenta mencoba mengingat nama murid pindahan itu. Semakin ia
mencoba mengingat, semakin ia lupa nama orang itu.
Kelamaan, Kenta
tidak peduli lagi akan nama murid pindahan itu. Ia keasikan menonton
pertandingan antara jinnai dan si murid pindahan. Tak pernah ia lihat jinnai
bertanding seserius itu.
Ya,
jinnai tidak pernah bersikap serius. Sikap santainya itu sering membuat partner
doubles nya geleng-geleng kepala di
lapangan. Bahkan bisa dibilang, jinnai selalu bergantung pada partnernya. Kalau
partnernya tampak lebih tenang, dan pendiam, sebaliknya, jinnai justru cerewet
dan paling ceria di antara tim inti.
Tapi, sikap itu
berubah setengah tahun lalu. Hari dimana ia kehilangan partner doubles nya. Sepulang pertandingan,
jinnai hanya diam di pojok ruangan klub. Keceriaan klub tennis menghilang,
seiring dengan perginya salah satu partner doubles
yang sangat berarti bagi jinnai. Apapun yang ditanya, siapapun yang
mengajak, jinnai hanya diam menunduk. Dan satu hal yang hanya Kenta yang tahu.
Setelah semua anggota tim inti pulang*tentunya dengan paksaan Kenta, karena
yang lainnya ngotot nggak mau pulang kalau jinnai masih murung* Kenta membujuk
dan menawarkan jinnai untuk di antar pulang. Yang bersangkutan hanya
menggeleng. Itu pertama kalinya Kenta melihat air mata di wajah jinnai yang
selalu berisik.
Sampai
sekarangpun, ekspresi, airmata jinnai saat itu masih teringat di ingatan Kenta.
Dan beberapa waktu berlalu sejak saat itu, ekspresi jinnai hari ini bagaikan
suatu hal yang selalu diharapkan Kenta, begitu pula anggota klub tennis
lainnya.
PLOK PLOK PLOK…
Kenta menepuk
tangannya. Ia memutuskan untuk menghampiri kedua orang yang sedang bertanding
serius itu. Di sela nafas yang ngos-ngosan
jinnai dan daisuke menghampiri Kenta.
“ maaf, aku
memakai lapangan tennis tanpa ijinmu” jinnai menundukkan kepalanya. Disusul
daisuke.
“ sudahlah.
Jinnai…. Mungkin kamu nggak sadar. Tapi, ekspresimu saat bermain dengan murid
pindahan itu, mengingatkanku pada jinnai yang dulu. Jinnai yang selalu tampak
senang saat bertanding dengan partnernya.”
Jinnai hanya
diam. Daisuke yang tidak tahu apa-apa hanya memandangi jinnai dan Kenta
bergantian.
“ jinnai-san doubles?”
“ aa~”
“ lalu? Mana
partner doubles jinnai-san?”
“ itu….”
“ Kenta!” suara
jinnai meninggi. “ sudahlah. Jangan libatkan hirose ke masa laluku.”
“ hirose!?” Kenta
terkejut mendengar nama itu. “ namamu hirose?”
Daisuke
mengangguk. “ hirose daisuke”
Kenta memandang
jinnai yang kembali menunduk. “ dia nggak ada hubungannya dengan hirose yang
kita tahu.”
“ anoo~ apa yang kalian maksud keisuke? Hirose
keisuke?” daisuke mencoba memotong pembicaraan yang tampak semakin serius itu.
Jinnai dan Kenta
serempak memandang daisuke. Yang dipandang semakin bingung dengan kedua orang
di hadapannya.
“ kau kenal
hirose keisuke?” Tanya Kenta meyakinkan.
Jinnai mencoba
menenangkan dirinya.
Daisuke
mengangguk. “ dia saudara kembarku yang meninggal beberapa bulan lalu.” Lagi, Kenta
dan jinnai tampak kaget. Berbeda dengan Kenta yang sedikit tenang, jinnai
menghampiri daisuke dan meremas bahunya.
“ itai~” rintih daisuke. Jinnai meremas
bahunya yang kurus itu sekuat tenaga.
“ kembar? Aku
nggak pernah tahu kalau dia kembar!”
“ eh? Aku… aku
sejak kecil sudah dipisahkan dengan kei. Kitapun, baru tahu kalau kita kembar 2
tahun lalu. Aku pernah bicara sekali dengannya. Sejak saat itu, aku nggak
pernah berkirim kabar lagi dengannya. Dan beberapa bulan lalu, aku dengar dia
meninggal”
Jinnai melepaskan
genggaman tangannya dari bahu daisuke, menunduk dan perlahan jongkok di hadapan
daisuke. Daisukepun ikut jongkok untuk menyetarakan tingginya dengan jinnai
yang menundukkan kepalanya.
“ aku pernah
dengar dari kei kalau dia jadi doubles
di tim inti seiru. Tapi…. Aku bener-bener nggak nyangka kalau itu jinnai-san.”
Air mata jinnai
perlahan mulai mengalir. Kenta hanya bisa diam.
“ jinnai-san?”
“ jangan panggil
namaku dengan suara itu.” Ujar jinnai. Dari suaranya, daisuke tahu kalau jinnai
sedang menangis.
“ jinnai-san
marah sama kei?”
Jinnai mengangkat
kepalanya. Daisuke bisa melihat jelas air mata jinnai mengalir deras.
“ marah? Aku
nggak pernah marah sama dia. Hanya saja….. semakin aku berusaha melepaskan
bayangannya, semakin aku menyesal memaksanya ikut tournament saat itu. Melihatmu, mendengar suaramu, rasa bersalah
semakin besar di diriku.”
“ jinnai-san….”
Tanpa menjawab,
jinnai meninggalkan daisuke dan Kenta.
“ jinnai-san!!”
panggil daisuke. Tanpa mempedulikan panggilan daisuke, jinnai keluar dari
lapangan tennis.
“ orang seperti
jinnai” ujar Kenta setelah jinnai menghilang di gerbang sekolah. “ orang yang
ceria seperti itu, orang yang menganggap semua orang di sekitarnya berharga,
sekali kehilangan kepercayaan dirinya, apapun yang orang sekitarnya lakukan,
dia nggak akan bisa bangkit. Aku minta maaf atas sikap jinnai padamu dan
keisuke.” Kenta menundukkan kepalanya.
“ ini bukan salah
Kenta bucho. Juga bukan salah jinnai-san. Nggak ada yang salah. Mungkin,
kehadiranku sekarang yang buat jinnai-san semakin bimbang.”
“ aku justru
berterima kasih padamu. Aku memperhatikan pertandingan kalian tadi. Tak pernah
kulihat jinnai menikmati bermain tennis seperti tadi. Aku pikir jinnai sudah
mulai melupakan masa kelamnya.”
“ jadi…..
gara-gara kei jinnai-san meninggalkan tennis?”
“ bukan. Jangan
menyalahkan orang yang sudah tidak ada. Hanya jinnai saja yang nggak pernah mau
bangkit dari keterpurukannya. Yah, aku coba bicara dengannya besok. Kau pulang
saja.”
Daisuke masih
diam memandang arah hilangnya jinnai tadi, kemudian mengumpulkan raketnya dan
mengangkut keranjang bola ke dalam ruangan klub.
Sementara itu
jinnai yang masih bimbang kembali ke
rumahnya dan langsung masuk ke kamar. Dilemparnya tas yang sedari tadi ia gendong, kemudian merebahkan badannya di
kasur. Entah karena pertandingan dengan daisuke tadi atau apa, badan dan pikirannya
terasa sangat capek. Saat ia berusaha memejamkan mata, handphone-nya berdering.
Dari kenta.
“ moshi moshi…”
jawab jinnai. Sebenarnya bisa saja ia me reject
telepon itu. Hanya saja ia tidak bisa. Seberapa kesalpun jinnai akan Kenta, ia
tak bisa benar-benar mengacuhkan kenta.
“
jinnai? Kau di mana?”
“ di rumah.
Kenapa?”
“
mm…. maaf aku mengungkit hal ini lagi. Tapi, apa kamu nggak terlalu kejam sama
hirose? Dia baru kenal denganmu kan? Bukannya di awal kamu sudah bilang, hirose
nggak ada hubungannya dengan ini?”
“ aku tahu,
pikiranku mengerti itu, tapi tanpa sadar badanku bertindak lain.”
“
mungkin lebih baik kau pikirkan sekali lagi, apa yang harus kau perbuat. Kalau
boleh jujur, sesaat setelah aku tahu dia saudara kembar keisuke, aku berniat
untuk menjadikannya partner doublesmu.”
Jinnai menarik
ujung bibirnya. “ bagaimana bisa? Kau nggak tahu kan apa aku bisa mendapatkan chemistry dengannya. Memang mereka
kembar, tapi belum tentu bisa cocok dengaku kan?”
Terdengar suara
tawa kenta. “ yah, yah, kau benar. Tapi
menurut instingku, kau akan cocok dengannya.”
“ keras kepala”
“
itu hak bucho kok. Aku kan ingin semua anggota tim
rukun.”
“ atau Cuma ingin
semua rukun supaya bisa menang pertandingan?”tebak jinnai asal. Bersamaan,
jinnai dan kenta tertawa.
“
yaa, kau tahu segalanya. Sampai-sampai hal yang tak diketahui yutaka, kau
tahu.”
“ aku tidak ingin
dipuji”
Kembali kenta
tertawa mendengar kalimat jinnai. “ yah,
sudahlah kalau begitu. Setidaknya aku yakin kau tidak akan bertindak bodoh.”
Kening jinnai
mengerut. “ contohnya?”
“
yaah, siapa tahu saking putus asanya dirimu, kau nekat gabung sama yakuza yang
kebetulan lewat terus membunuh orang sampai-sampai dipenjara, dan nama klub
tennis seiru akan tercemar”
analisisnya asal. Tanpa diketahui, jinnai tersenyum mendengar perkataan kenta.
“ kalau benar,
orang yang akan kubunuh itu kau.”
“
wah wah, kalau aku mati, nanti siapa yang akan jadi kapten hah? Ya sudahlah,
aku harap besok kau datang ke klub.”
“ ano, kenta….”
“ ano, kenta….”
“
un?”
“ aku punya satu
permintaan.”
“
hooo~ seorang jinnai punya permintaan.”
“ ngomong itu
sekali lagi, besok kau benar-benar kubunuh.”
“
galak sekali. Lalu? Apa yang bisa kubantu untuk seorang jinnai?”
“ umm.
Sebenarnya…………”
=========
To Be Continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar