Kamis, 17 Mei 2012

[Fanfic] Jinnai-Daisuke - Kimi to Deatte, Yokatta~(part2)

Kimi to Deatte, Yokatta
(Part2)


Kenta masih di ruang klub. Masih memikirkan bagaimana membujuk jinnai agar kembali ke klub. “ orang yang seperti itu? Kenapa dia nggak coba berpasangan dengan yang lain? Apa orang itu sama sekali tak bisa tergantikan?” pertanyaan itu terus berkelebat di pikirannya.
Samar-samar, ia mendengar bunyi bola dari lapangan tennis. Bermaksud untuk menegur seseorang yang menggunakan lapangan tanpa ijinnya seusai klub, Kenta kaget melihat 2 orang yang sedang bertanding di lapangan.

“ ji… jinnai?” gumamnya tak percaya, melihat sosok jinnai bertanding dengan seseorang. Tak jelas melihat wajah lawan jinnai, Kenta mendekat dengan perlahan. Berharap kehadirannya tak disadari oleh kedua orang itu. “ itu…. Murid pindahan itu bukan?” Kenta mencoba meyakinkan dirinya. “ kalau nggak salah, namanya…..” Kenta mencoba mengingat nama murid pindahan itu. Semakin ia mencoba mengingat, semakin ia lupa nama orang itu.
Kelamaan, Kenta tidak peduli lagi akan nama murid pindahan itu. Ia keasikan menonton pertandingan antara jinnai dan si murid pindahan. Tak pernah ia lihat jinnai bertanding seserius itu.

Ya, jinnai tidak pernah bersikap serius. Sikap santainya itu sering membuat partner doubles nya geleng-geleng kepala di lapangan. Bahkan bisa dibilang, jinnai selalu bergantung pada partnernya. Kalau partnernya tampak lebih tenang, dan pendiam, sebaliknya, jinnai justru cerewet dan paling ceria di antara tim inti.
Tapi, sikap itu berubah setengah tahun lalu. Hari dimana ia kehilangan partner doubles nya. Sepulang pertandingan, jinnai hanya diam di pojok ruangan klub. Keceriaan klub tennis menghilang, seiring dengan perginya salah satu partner doubles yang sangat berarti bagi jinnai. Apapun yang ditanya, siapapun yang mengajak, jinnai hanya diam menunduk. Dan satu hal yang hanya Kenta yang tahu. Setelah semua anggota tim inti pulang*tentunya dengan paksaan Kenta, karena yang lainnya ngotot nggak mau pulang kalau jinnai masih murung* Kenta membujuk dan menawarkan jinnai untuk di antar pulang. Yang bersangkutan hanya menggeleng. Itu pertama kalinya Kenta melihat air mata di wajah jinnai yang selalu berisik.

Sampai sekarangpun, ekspresi, airmata jinnai saat itu masih teringat di ingatan Kenta. Dan beberapa waktu berlalu sejak saat itu, ekspresi jinnai hari ini bagaikan suatu hal yang selalu diharapkan Kenta, begitu pula anggota klub tennis lainnya.

PLOK PLOK PLOK…

Kenta menepuk tangannya. Ia memutuskan untuk menghampiri kedua orang yang sedang bertanding serius itu. Di sela nafas yang ngos-ngosan jinnai dan daisuke menghampiri Kenta.

“ maaf, aku memakai lapangan tennis tanpa ijinmu” jinnai menundukkan kepalanya. Disusul daisuke.

“ sudahlah. Jinnai…. Mungkin kamu nggak sadar. Tapi, ekspresimu saat bermain dengan murid pindahan itu, mengingatkanku pada jinnai yang dulu. Jinnai yang selalu tampak senang saat bertanding dengan partnernya.”
Jinnai hanya diam. Daisuke yang tidak tahu apa-apa hanya memandangi jinnai dan Kenta bergantian.

“ jinnai-san doubles?”
“ aa~”
“ lalu? Mana partner doubles jinnai-san?”
“ itu….”

“ Kenta!” suara jinnai meninggi. “ sudahlah. Jangan libatkan hirose ke masa laluku.”
“ hirose!?” Kenta terkejut mendengar nama itu. “ namamu hirose?”

Daisuke mengangguk. “ hirose daisuke”
Kenta memandang jinnai yang kembali menunduk. “ dia nggak ada hubungannya dengan hirose yang kita tahu.”

anoo~  apa yang kalian maksud keisuke? Hirose keisuke?” daisuke mencoba memotong pembicaraan yang tampak semakin serius itu.

Jinnai dan Kenta serempak memandang daisuke. Yang dipandang semakin bingung dengan kedua orang di hadapannya.

“ kau kenal hirose keisuke?” Tanya Kenta meyakinkan.
Jinnai mencoba menenangkan dirinya.

Daisuke mengangguk. “ dia saudara kembarku yang meninggal beberapa bulan lalu.” Lagi, Kenta dan jinnai tampak kaget. Berbeda dengan Kenta yang sedikit tenang, jinnai menghampiri daisuke dan meremas bahunya.

itai~” rintih daisuke. Jinnai meremas bahunya yang kurus itu sekuat tenaga.

“ kembar? Aku nggak pernah tahu kalau dia kembar!”

“ eh? Aku… aku sejak kecil sudah dipisahkan dengan kei. Kitapun, baru tahu kalau kita kembar 2 tahun lalu. Aku pernah bicara sekali dengannya. Sejak saat itu, aku nggak pernah berkirim kabar lagi dengannya. Dan beberapa bulan lalu, aku dengar dia meninggal”

Jinnai melepaskan genggaman tangannya dari bahu daisuke, menunduk dan perlahan jongkok di hadapan daisuke. Daisukepun ikut jongkok untuk menyetarakan tingginya dengan jinnai yang menundukkan kepalanya.
“ aku pernah dengar dari kei kalau dia jadi doubles di tim inti seiru. Tapi…. Aku bener-bener nggak nyangka kalau itu jinnai-san.”

Air mata jinnai perlahan mulai mengalir. Kenta hanya bisa diam.

“ jinnai-san?”
“ jangan panggil namaku dengan suara itu.” Ujar jinnai. Dari suaranya, daisuke tahu kalau jinnai sedang menangis.

“ jinnai-san marah sama kei?”

Jinnai mengangkat kepalanya. Daisuke bisa melihat jelas air mata jinnai mengalir deras.

“ marah? Aku nggak pernah marah sama dia. Hanya saja….. semakin aku berusaha melepaskan bayangannya, semakin aku menyesal memaksanya ikut tournament saat itu. Melihatmu, mendengar suaramu, rasa bersalah semakin besar di diriku.”

“ jinnai-san….”

Tanpa menjawab, jinnai meninggalkan daisuke dan Kenta.
“ jinnai-san!!” panggil daisuke. Tanpa mempedulikan panggilan daisuke, jinnai keluar dari lapangan tennis.

“ orang seperti jinnai” ujar Kenta setelah jinnai menghilang di gerbang sekolah. “ orang yang ceria seperti itu, orang yang menganggap semua orang di sekitarnya berharga, sekali kehilangan kepercayaan dirinya, apapun yang orang sekitarnya lakukan, dia nggak akan bisa bangkit. Aku minta maaf atas sikap jinnai padamu dan keisuke.” Kenta menundukkan kepalanya.

“ ini bukan salah Kenta bucho. Juga bukan salah jinnai-san. Nggak ada yang salah. Mungkin, kehadiranku sekarang yang buat jinnai-san semakin bimbang.”

“ aku justru berterima kasih padamu. Aku memperhatikan pertandingan kalian tadi. Tak pernah kulihat jinnai menikmati bermain tennis seperti tadi. Aku pikir jinnai sudah mulai melupakan masa kelamnya.”

“ jadi….. gara-gara kei jinnai-san meninggalkan tennis?”

“ bukan. Jangan menyalahkan orang yang sudah tidak ada. Hanya jinnai saja yang nggak pernah mau bangkit dari keterpurukannya. Yah, aku coba bicara dengannya besok. Kau pulang saja.”

Daisuke masih diam memandang arah hilangnya jinnai tadi, kemudian mengumpulkan raketnya dan mengangkut keranjang bola ke dalam ruangan klub.

Sementara itu jinnai yang  masih bimbang kembali ke rumahnya dan langsung masuk ke kamar. Dilemparnya tas yang sedari tadi ia  gendong, kemudian merebahkan badannya di kasur. Entah karena pertandingan dengan daisuke tadi atau apa, badan dan pikirannya terasa sangat capek. Saat ia berusaha memejamkan mata, handphone-nya berdering.
Dari kenta.

“ moshi moshi…” jawab jinnai. Sebenarnya bisa saja ia me reject telepon itu. Hanya saja ia tidak bisa. Seberapa kesalpun jinnai akan Kenta, ia tak bisa benar-benar mengacuhkan kenta.

“ jinnai? Kau di mana?”
“ di rumah. Kenapa?”

“ mm…. maaf aku mengungkit hal ini lagi. Tapi, apa kamu nggak terlalu kejam sama hirose? Dia baru kenal denganmu kan? Bukannya di awal kamu sudah bilang, hirose nggak ada hubungannya dengan ini?”

“ aku tahu, pikiranku mengerti itu, tapi tanpa sadar badanku bertindak lain.”

“ mungkin lebih baik kau pikirkan sekali lagi, apa yang harus kau perbuat. Kalau boleh jujur, sesaat setelah aku tahu dia saudara kembar keisuke, aku berniat untuk menjadikannya partner doublesmu.”

Jinnai menarik ujung bibirnya. “ bagaimana bisa? Kau nggak tahu kan apa aku bisa mendapatkan chemistry dengannya. Memang mereka kembar, tapi belum tentu bisa cocok dengaku kan?”
Terdengar suara tawa kenta. “ yah, yah, kau benar. Tapi menurut instingku, kau akan cocok dengannya.”

“ keras kepala”
“ itu hak bucho kok. Aku kan ingin semua anggota tim rukun.”
“ atau Cuma ingin semua rukun supaya bisa menang pertandingan?”tebak jinnai asal. Bersamaan, jinnai dan kenta tertawa.

“ yaa, kau tahu segalanya. Sampai-sampai hal yang tak diketahui yutaka, kau tahu.”
“ aku tidak ingin dipuji”

Kembali kenta tertawa mendengar kalimat jinnai. “ yah, sudahlah kalau begitu. Setidaknya aku yakin kau tidak akan bertindak bodoh.”
Kening jinnai mengerut. “ contohnya?”

“ yaah, siapa tahu saking putus asanya dirimu, kau nekat gabung sama yakuza yang kebetulan lewat terus membunuh orang sampai-sampai dipenjara, dan nama klub tennis seiru akan tercemar” analisisnya asal. Tanpa diketahui, jinnai tersenyum mendengar perkataan kenta.

“ kalau benar, orang yang akan kubunuh itu kau.”
“ wah wah, kalau aku mati, nanti siapa yang akan jadi kapten hah? Ya sudahlah, aku harap besok kau datang ke klub.”
“ ano, kenta….”
“ un?”
“ aku punya satu permintaan.”
“ hooo~ seorang jinnai punya permintaan.”
“ ngomong itu sekali lagi, besok kau benar-benar kubunuh.”
“ galak sekali. Lalu? Apa yang bisa kubantu untuk seorang jinnai?”
“ umm. Sebenarnya…………”
=========
To Be Continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar