Kimi ni....
Cast : Jinnai Sho, Hirose Daisuke, dan cast Seiru lainnya...*seperti biasa*
Note : Sebuah fanfic gaje untuk ulang tahun dainyan.....
Otanjoubi Omedetou Dainyan.... :D
==========
Pindah
sekolah ke st rudolph dan lanjut bermain tennis tidak pernah terbayangkan oleh
daisuke. Namun kenyataan membawanya pada keadaan itu. Terlebih lagi daisuke
bisa masuk tim inti dan menjadi partner doubles dengan jinnai sho, mantan
pasangan doubles keisuke, saudara kembarnya. Awalnya daisuke agak ragu dengan
jinnai. Bukannya bagaimana, jinnai orang unik pertama yang ditemui daisuke.
Awal bertemu, dia
tampak suram. Setelah mencari tahu, dan terlibat masa lalu-nya, daisuke bisa
mengerti kenapa jinnai bisa semuram itu. Sempat bertanding dengannya, kapten
izukapun menyarankan daisuke untuk jadi partner doubles jinnai.
Dari
sikap teman-teman se-klub dan perlakuan kapten Izuka, daisuke tahu kalau jinnai
salah satu anggota klub yang diandalkan. Keunikan pertama yang buat daisuke
shock, saat jinnai setuju untuk menjadikan dirinya partner doubles jinnai.
Sepulang dari latihan sore, jinnai yang menanyakan nomer handphone daisuke
sepulang latihan itu menelponnya. Dari nada suara yang ceria dan selalu
mengakhiri kalimat dengan kata “dane~” daisuke tak menyangka kalau yang
menelponnya itu jinnai yang ia hadapi tadi.
Walau
berisik dan suka seenaknya, akhir-akhir ini daisuke sedikit bergantung pada
pria yang ia panggil jinshan itu. Misalnya pada saat sebelum bertanding,
daisuke yang saat itu menghadapi pertandingan pertamanya sebagai partner
doubles jinnai, merasa resah. Jinnai, dengan nada bicaranya yang biasa, malah
menantang daisuke. Seandainya pertandingan kali ini mereka menang, jinnai akan
memasakkan sesuatu untuknya. Biar kelihatannya cuek, masakan buatan jinnai
cukup popular di antara anggota klub. Seandainya kalah, menu latihan jinnai
akan dilakukan oleh daisuke. Dengan perjanjian-atau lebih tepatnya ancaman-
jinnai, daisuke bisa melupakan kecemasannya.
Pernah
juga, jinnai rela pulang malam demi membantu daisuke menyelesaikan piketnya.
Saat olah ragapun, jinnai yang kebetulan lewat lapangan sepak bola saat kelas
daisuke sedang olah raga, dan melihat daisuke jongkok memegangi kakinya yang
kram, jinnai segera menghampiri daisuke dan menggendongnya ke ruang UKS. Walau
daisuke bilang tidak apa-apa, jinnai tetap bersikeras menunggui daisuke sampai
perawat UKS datang.
Akhir-akhir
ini, daisuke yang, entah kenapa sering memimpikan saudara kembarnya itu, selalu
menceritakan mimpinya pada jinnai. Jinnai hanya tersenyum dan mengelus kepala
daisuke.
“ dia kangen sama
kamu mungkin” jawabnya.
Jinnaipun
tak menolak ketika diminta daisuke untuk menemaninya mengunjungi makam keisuke.
Yah, untuk yang satu ini memang tak mungkin jinnai menolak. Dan daisuke tak
bisa berbuat apa saat jinnai merenung menatap makam keisuke. Walau sesaat
sebelum sampai di makam dan beberapa menit setelah mereka meninggalkan makam
jinnai masih diam, begitu tiba di apartemen jinnai, kemuraman itu hilang entah
kemana. Dan jinnai yang berisikpun kembali.
Selagi
daisuke asik memainkan handphone-nya, bel apartemen jinnai berbunyi. Daisuke
yang menawarkan diri untuk membuka pintu, dilarang oleh jinnai.
“ biar aku yang
buka. Tolong lihat masakanku.” Ujarnya sambil melepas celemek dan menuju pintu
masuk untuk membuka pintu.
Daisuke bengong
melihat hasil masakan jinnai. Masakan itu terlalu banyak untuk dimakan berdua.
“ daisuke..”
panggil jinnai. Daisuke pun berbalik dan melihat seluruh anggota inti klub tennis
berkumpul di ruangan itu. Okubo membawa sebuah kue tart.
“ otanjoubi omedetou~~” seru semua orang
yang ada di ruangan itu. Daisukepun tersadar kalau hari ini hari ulang
tahunnya.
“ ayo ditiup
lilinnya” ujar okubo tak sabar. “ eiiit~” lanjutnya saat daisuke mendekat dan
hendak meniup lilin. “ make a wish dulu…”
Daisuke hanya
tertawa. Ia menundukkan kepalanya dan memejamkan mata. Setelah mengucapkan
beberapa permintaan, lilin kecil berwarna warni di sekeliling kue itupun
ditiupnya.
“ minna, arigatou~” ujar daisuke saat yang
lain asik memotong kue. “ jangan-jangan ide jinshan ya, mengajakku ke sini
pulang dari makam kei?”
Yang dituduh
hanya nyengir polos. “ nggak nyangka dane~?”
Daisuke
mengerutkan bibirnya. Teringat sesuatu ia melihat ke arah kenta yang sedang
melihat-lihat hasil masakan jinnai di meja makan. “ bukannya hari ini ada
latihan sore?”
“ mm?” kenta
mengalihkan pandangannya dari masakan jinnai dan memandang daisuke. “
sekali-sekali libur boleh kan? Sudah, jangan pikirkan itu. Cepat makan kuenya,
lalu kita makan masakan jinshan…” ujar kenta tak sabar. Ia mendorong daisuke
menuju ruang tamu, dan bergabung dengan jinnai, okubo, seiya, dan yutaka yang
sedang berebut kue.
“ nee, yang ulang
tahun nggak dapet bagian dane~” serobot jinnai. Mengamankan kue yang belum
terpotong. Dari jangkauan tangan izuka dan yang lainnya. “ dainyan kurus, harus
makan banyak. Dane~?”
“ sou da.” Daisuke merebut kue yang
dipegang jinnai.
Selanjutnya,
mereka asik makan kue, dilanjutkan dengan makan malam, masakan jinnai.
Saat matahari
mulai terbenam, satu persatu mereka pulang. Tinggal kenta dan daisuke di kamar
itu, jinnai mengantar yang lain pulang sekalian mampir ke konbini untuk membeli
snack.
“ kyou wa arigatou, Izuka bucho.” Ujar
daisuke sambil menundukkan kepalanya.
“ hum? Ah,
harusnya kau berterima kasih pada jinshan. Dia yang punya ide untuk merayakan
ulang tahunmu. Aku sih, senang-senang saja. Karena itu artinya kalian sudah
mulai dekat.”
“ jinshan, arigatou ne~” gumam daisuke dari balik
selimutnya. Malam ini ia memilih menginap di rumah jinnai. Karena asik
mengobrol dengan kenta, daisuke ketinggalan kereta terakhir. Mumpung besok juga
libur, jinnai menyarankan daisuke untuk menginap.
Jinnai yang
memunggungi daisuke, berbalik dan memandang daisuke yang juga memandangnya.
“ aku baru sadar,
mungkin karena ulang tahun kita sudah dekat, makanya kei jadi sering muncul di
mimpiku.”
“ hmm… mungkin
sih.”
“ awalnya aku
berpikir, apa aku bisa jadi partner doubles yang baik buat jinshan. Tapi….
Sebagaimanapun aku berusaha, kei tetap tak bisa tergantikan ya…”
“ naa, dainyan…
sejujurnya saat aku bertemu denganmu, aku benar-benar bagaikan melihat keisuke
yang masih hidup. Tapi, setelah aku bertanding denganmu, aku menemukan sosok
dainyan yang benar-benar berbeda dengan kei. Dan aku rasa, sesuatu yang berbeda
itulah yang tak pernah kutemukan dari sosok keisuke.” Jinnai mengangkat
kepalanya, dan mengganjal dengan tangannya. “ jangan lagi berpikir kalau aku
menjadikanmu partner doubles karena kau kembaran keisuke. Dainyan yang kukenal,
adalah dainyan yang sebenarnya. Bukan sebagai pengganti keisuke atau siapapun.
Aku memilih dainyan sebagai partnerkupun karena dainyan bisa menghadapi semua
sifatku, dan tanpa ragu memukul atau menjitakku kalau kelakuanku berlebihan.
Seringnya, dainyanlah yang memberikan semangat padaku. Kau selalu
menyemangatiku walau kau sendiri sering cemas. Dainyan yang selalu panik kalau
lupa bawa hachimaki. Dainyan yang seperti itu, sangat berbeda dengan keisuke.”
Daisuke hanya
diam mendengar kata-kata jinnai. Ia menutup matanya sejenak, kemudian
tersenyum.
“ yappari, hanya jinshan yang bisa
mengatakan semua kejelekanku seperti itu..” daisuke tertawa. Jinnai diam
sejenak, mengerut alisnya kemudian ikut tertawa.
“ sudahlah, tidur
sana! Besok kau harus berangkat dengan kereta pagi.” Jinnai kembali ke
posisinya, dan menarik kembali selimutnya. “ oyasumi”
“ oyasumi”
==========
END
Gaje banget dah....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar