Akhirnya bisa ngepost lanjutan kokuhaku time.... BANZAI!!
Hahahaha...... mari kita lanjuuuuut....
Kokuhaku Time Part 2
Character : Endou Yuya, Kento Ono, Nakajima Yuto, Kanata Hongo, Haruna(chara buatan), Watanabe Daisuke, Yukito Nishii......
==========
“ Ha?” itulah kata pertama yang diucapkan Kanata setelah mendengar protes yuya yang tercatat oleh kento menghabiskan waktu 2 setengah jam. “ kau kan wakilku, ya jelas harus kau yang membantuku.”
“ membantu? Memangnya apa kegiatanmu sampai-sampai aku harus membantumu….”
Kanata beranjak dari tempat duduknya. Menghampiri yuya dan menepuk bahunya. “ percayalah, kalau kamu ingin tahu kegiatanku, kau pasti akan pingsan.” Begitu selesai membisikkan kata-kata itu, Kanata meninggalkan ruang osis. Meninggalkan yuya yang bengong, kento yang asik mencatat, dan yuto yang kecewa tontonan gratisnya selesai.
“ sudahlah yuya, percuma kamu protes. Sekeras apapun usahamu mengubah keputusan Kanata, dia akan semakin keras kepala.” Ujar kento begitu selesai mencatat apa yang barusan diamatinya.
Yuya menghela nafas. Yuto menghampiri yuya.
“ perlu bantuan senpai?” tanyanya pada yuya yang kini menopang dagunya dengan tangan kanan. Ia melirik sejenak kea rah yuto. Kemudian kembali menghela nafas.
“ hum….” Kento mengambil sebuah buku yang amit-amit tebalnya. “ aku rasa 90% kau nggak suka tugas ini karena kau tidak tau apapun tentang yang namanya menyatakan perasaan. 5% karena kau ingin santai sebentar setelah kerja rodi musical beberapa bulan yang lalu. Dan 5% lagi karena kau nggak rela Kanata memberikan tugas LAGI-LAGI semuanya dilimpahkan padamu.” Begitu selesai menganalisa, kento menutup bukunya, dan mengembalikannya ke tempat semula.
“ lalu? Aku harus bagaimana?” yuya memandang 2 orang yang ada di ruang osis. Bergantian memandang kento dan yuto.
TOK TOK TOK…..
Di tengah kesunyian ruang osis, seseorang mengetuk pintu. Yuto yang bertugas menyambut tamu, langsung beranjak untuk membuka pintu. Begitu pintu terbuka, dilihatnya seorang cewek berambut lurus sebahu, memakai seragam seigaku.
“ maaf, ada perlu apa?” Tanya yuto sopan.
“ ano, kemarin saya diminta ke ruang osis jam 10 oleh Kanata-bucho. Em…. Dan dia bilang saya harus bertemu dengan wakil osis. Yuya-san.” Begitu mendengar jawaban cewek yang terbata-bata itu, yuto bisa menebak maksudnya datang ke ruang osis.
“ aah, yang mau menyatakan…..”
“ sssst…..” sebelum yuto menyelesaikan kalimatnya, cewek itu memotong omongan yuto. Ia meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri. “ lebih baik jangan dibicarakan disini…..”
“ aah, iya…. Maaf…. Silakan masuk….” Yuto mempersilakan tamunya masuk. “ senpai, “klien” kita sudah datang….” Yuto memberitahu tamu yang datang pada yuya dan kento.
“ klien?” Tanya yuya tak mengerti.
“ah, nama saya haruna. Em, saya yang minta tolong pada Kanata-bucho 2 hari yang lalu.” Cewek yang memperkenalkan diri bernama haruna itu menundukkan kepalanya. Yuya sontak menganga. Sedangkan kento kembali mencatat.
“ ah, silakan duduk.” Yuto mempersilakan haruna duduk di seberang yuya. Begitu memastikan tamunya sudah duduk, yuto menghampiri yuya yang masih bengong. “ oi, senpai…. Jangan bengong dong…” bisiknya di telinga yuya. Orang yang bersangkutan akhirnya sadar dan mulai terlihat sedikit panic.
“ lalu….” Yuya mencoba tenang. “bisa beritahu siapa orang yang kau sukai itu?” Tanya yuya sok bijak dan mengerti tentang cinta.
“ em… itu….” Haruna tampak ragu. Ia melirik pada yuto yang sedang membuat teh, dan kento yang asik dengan senyuman yang tidak bisa dideskipsikan karena mengandung banyak arti. “ saya sedikit merasa nggak enak kalau bicara disini… saya mau hanya yuya-san yang tahu.”
“ hooo….. Bagaimana kalau kita bicara di kantin.. mumpung aku belum dije….” Pembicaraan yuya dipotong oleh getar hp di saku celananya. “ maaf, aku terima telepon dulu…” yuya bangkit dari tempat duduknya, dan merapatkan dirinya ke jendela di dekat meja Kanata. “ ada apa?... ha? Memangnya daisuke sudah datang? Aku nanti saja pulangnya…… Haa? Alasan apa itu……… tapi…… kan bisa….. arrgh…. Baiklah… 5 menit lagi..” yuya mematikan hpnya. Barusan yukito yang menelepon. Dia minta yuya segera pulang. “ haruna-san…. Maaf sepertinya diskusinya dilanjutkan besok saja. Ah iya, besok mumpung yuto dan kento ada tugas keluar, jadi saat istirahat datanglah kemari.”
“ baiklah.” Haruna mengangguk. Beberapa menit kemudian dia sudah keluar dari ruang osis.
“ wah… wah….” Ujar yuto. “ senpai punya perkiraan nggak, kira-kira siapa yang disukai haruna?”
“ entahlah….. nggak kepikiran siapapun.” Jawab yuya sambil membereskan mejanya.
“ khukhukhu…..” suara tawa kento membuat 2 orang lainnya di ruangan itu menoleh ke asal suara. “ aku sudah memperkirakan siapa yang disukai oleh haruna.”
“ persentasenya?” Tanya yuya. Ia mengurungkan niatnya, dan duduk di mejanya menunggu hasil pengamatan kento.
“ ehm….” Kento membuka buku catatannya. “ 50% Kanata, atau teman kita yang lain. 40% yuto. 4% aku.. dan 1% kau!” ujar kento. Yuya bingung harus merasa senang atau kesal dengan persentase yang di analisa kento.
“ baiklah…. Aku sudah mendengar analisamu. Dan sekarang aku harus pulang.” Yuya beranjak dari tempat duduknya. Ternyata tanpa sepengetahuan 2 orang lainnya, hp yuya terus bergetar. Ya, yukito meneleponnya berkali-kali. Dan kalau dia tak segera pulang, dijamin bocah itu akan mengomel sepanjang hari. “ yuto, ingat… pastikan si kelelawar hidup itu nggak tidur di ruang osis lagi!!” yuya memperingati yuto kemudian meninggalkan ruang osis.
Begitu sampai di tempat parkir, yuya mendapati yukito duduk di dalam mobil yang pintunya masih terbuka. Duduk bersila dengan tangan dilipat di dada dan pandangan mata yang menyipit.
“ telat 10 menit!!” omelnya begitu yuya sampai di depan mobil.
“ maaf…. Yukito kan tahu tugasku sebagai ketua osis sangat sibuk. Maklum dikit dong. Lalu, yuki mana?” Tanya yuya. Merasa aneh adik perempuannya yang lebih cerewet dibanding yukito itu tidak ada di dalam mobil.
“ ah, yuki bilang kalau dia pulang sama yuichi dan tomo. Katanya sih mau belajar masak di rumah tomo.” Kepala daisuke menyembul dari dalam mobil. Melihat daisuke, yuyapun punya ide.
“ ya udah, ayo kita pulang. Yukito, aku duduk di depan ya… ada yang mau kurundingkan dengan daisuke.” Daisuke yang disebut namanya merasa heran.
“ hee? Hitori?” yukito tampak protes. Padahal dia ingin membanggakan hasil ulangan matematika yang dibagikan tadi. “ demoo….”
“ ayo berangkat.” Yuya mengelus kepala yukito sejenak, kemudian ke depan. “ nah, daisuke, em…. Sebenarnya…. Daisuke punya pengalaman tentang cinta nggak?”
CKIIIIIT……
Daisuke mendadak menghentikan mobilnya. Yuya yang sedikit terbentur mengelus kepalanya. Sedangkan yukito, double shock. Pertama, karena ini pertama kalinya ia mendengar yuya menanyakan tentang cinta, kedua karena daisuke ngerem mendadak.
“ itteeeee~~” ujar yukito mengelus kepalanya. “ aniki, ada angin apa nih? Aniki lagi jatuh cinta?” tebak yukito.
“ bukan! Udah, lanjut jalan….” Perintah yuya yang sadar kalau mereka masih di dalam halaman sekolah. Daisuke mengangguk kemudian mulai menjalankan mobil.
“ nee, aniki….. beneran lagi jatuh cinta nih?” goda yukito. Yuya yang kesal, mencubit pipi yukito. “ Shakhith hanikhi… wephas…” ujar yukito meronta. Kerempeng begitu ternyata tenaga yuya kuat juga.
“ aku kan sudah bilang bukan! Lalu, bagaimana jawabanmu?”
“ hem…. Dulu waktu jaman sekolah sih pernah. Memangnya, ada keperluan apa menanyakan hal itu?” daisukepun merasa penasaran. Karena cowok judes yang duduk di sebelahnya itu tidak pernah sama sekali membahas masalah cinta. Wajar yukito menganggap kakaknya itu lagi jatuh cinta.
“ Cuma tugas osis. Ada seorang cewek yang minta bantuan osis untuk memberikan keberanian menyatakan cinta ke cowok yang disukainya. Aku nggak ngerti masalah itu. Makanya aku mau cari data.”
“ hoo…. Tapi kalau menurut saya, lebih baik berunding dengan cewek. Karena yang akan menyatakan cinta cewek kan? Kalau saya sih tidak terlalu mengerti masalah cewek. Mungkin bisa bertanya dengan junko-san, atau ren(?), munkin juga yuki….”
“ geez…..” yuya mengumpat.
“ benar juga… mungkin aku memang harus berunding dengan cewek. Kalau mama, sih oke-oke aja…. Ren(?) juga…. Lah, yuki…. Bisa-bisa dia berpikir yang aneh-aneh kalau aku menanyakan hal ini dengannya.” Ujar yuya dalam hati. Ia menghela nafas sejenak. Kalau dipikir-pikir lagi, Bicara dengan yuki memang beresiko. Tapi, berunding dengan mamanya justru lebih beresiko. Kenapa? Karena tanpa mendengar penjelasannya, junko pasti akan mengira kalau dirinya yang jatuh cinta. Dan, bisa-bisa mamanya bercerita ke seluruh tetangga kalau anaknya lagi jatuh cinta…
“ haaaah, ternyata emang harus yuki….” Gumam yuya.
==========
Tidak ada komentar:
Posting Komentar