Jumat, 02 Desember 2011

[Story] - Kerikil Kecil

Konnichiwaaa~

Hari ini mau ngepost cerita yang udah duluuuuuu banget kubuat...
Walau rada Gaje*banget malah* tapi entah kenapa cerita ini berbekas banget di hatikyuuu~~ XD

Kalo ga punya kerjaan, silakan dibaca.....*dilempar kamus*

Kerikil Kecil
Author : Hanagawa Yuki
Genre : Ga ngerti dah.... XD

KERIKIL KECIL  

Hari ini… terdengar nada natal dari berbagai tempat. Semua orang yang terlihat dari jendela tampak bahagia. Ada yang bersama keluarga, sahabat dan juga kekasih. Namun, hal itu tak berpengaruh padaku. Meskipun di luar sana penuh kebahagiaan, aku tak pernah mendapat percikannya sedikitpun. Yah… itu cukup untukku. Dengan ditemani genki, kucing kecilku itu sudah menghiburku.

“ Rin, sudah saatnya makan obat.” Ujar eri, kakakku yang ternyata sudah berada di sebelahku sambil membawa nampan berisi obat dan air putih. Begitu nampan diletakkan di depanku, aku segera mengambil obat itu dan meminumnya.

“ lagi lihat apa?” tanyanya.
Aku tersenyum. “ kakak pernah merasakan natal?”
“ pernah sekali. Memangnya kenapa?”
“ pasti menyenangkan.” Aku tersenyum lemah. Eri membelai kepalaku.
“ suatu saat kalau kamu sudah sembuh, pasti kamu merasakan natal. Maka dari itu kamu harus sembuh. Gambatte!!” kakak memberiku semangat dengan bahasa jepangnya.

Ia meninggalkanku setelah aku menutup mata dibalik selimut. Aku hanya pura-pura tidur.

PLAK…
Terdengar bunyi sesuatu mengenai jendela kamarku. Dengan kekuatan yang ada aku menuju jendela. Tampak seorang anak laki-laki yang sepertinya seumuran denganku. Aku membuka jendela. Angin malam menerpa badanku.
“ HEEE~I” teriaknya dari bawah sana. “ kamu nggak keluar?”
aku menggeleng. “ kenapa?” lanjutnya.
Aku hanya diam. Tak mungkin aku mengatakan kalau aku sakit dan harus berbaring di tempat tidur terus menerus.
“ aku… aku sibuk!” seruku berbohong.
“ boleh aku ke rumahmu?”
“ ja…” terlambat. Ia sudah mengetuk pintu rumahku. Sepertinya kak eri yang membukakan pintu. Sesaat setelah itu terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamarku. Setelah kupersilakan masuk, tampak kak eri dengan laki-laki tadi.
“ hai… kenalkan namaku kei. Namamu rin kan??” tebaknya sok tahu.

“ kau tahu namaku dari siapa?”
“ hehe… tensai teki??. Sekali lihat aku tahu nama-nama orang yang kutemui.” Ujar kei sambil menggaruk kepalanya yang sepertinya tak gatal.

“ tak lucu. Ada perlu apa kau denganku??”
“ em… aku.. aku Cuma mau mengenal kamu aja kok. Nggak boleh? Atau… jangan-jangan ada yang marah??”

“ marah? Siapa?”
“ ya pacarmulah.”
“ aku nggak punya pacar!”
“ eh? Kenapa nggak? Padahal kamu kan manis. Atau… kau jarang bergaul dengan dunia luar?” sorot matanya berubah serius. Aku hanya diam. “ tebakanku benar kan? Boleh aku tau alasannya?”
“ aku… aku sakit.”

“ waaah…. Maaf kalau begitu. Aku boleh jadi temanmu kan?”
aku hanya mengangguk. Dalam hati aku merasa senang. Kei teman pertamaku.
“ maaf aku harus istirahat.” Kepalaku mulai terasa pusing. Kei yang sepertinya menyadari keanehanku langsung memapahku duduk di pinggir tempat tidur.
“ istirahatlah. Maaf aku mengganggu. Em… besok aku boleh mampir lagi kan?”

antara sadar dan tak sadar aku mengangguk. Selanjutnya aku tak tahu apa yang terjadi.

Keesokan harinya kak eri terus memuji kei. Menurut kak eri kei itu merupakan salah satu anak tetangga depan rumah. Kei sering melihatku memandang ke luar jendela. Ia penasaran denganku. Dan akhirnya ia nekat melempari kaca jendelaku dengan kerikil.
Aku hanya tersenyum mendengar cerita kak eri.

Keesokan harinya ia terus menemuiku. Aku merasa terhibur. Dan juga meringankan beban kak eri. Kak eri bisa lebih berkonsentrasi pada bukunya. Sedangkan kei selalu membantuku. Seperti makan, minum obat, mengambilkanku minum, dan sebagainya.

        Sampai suatu hari sakit kepalaku makin menjadi. Bahkan saat kei datang aku tak bisa tersenyum tulus seperti biasanya.
“ ada yang sakit?” kei sepertinya menyadari keanehanku.
Aku terdiam sejenak. “ ke.. kepalaku sakit!”
“ sudah minum obat?”
“ sudah.”
“ tunggu ya!” ia berlari keluar. Beberapa menit kemudian kei datang bersama kak eri. Mereka menggotongku masuk ke mobil. Selanjutnya kesadaranku makin melemah.

“ rin…” itu kata-kata kei yang terakhir ku dengar sebelum pingsan.

Bau obat menusuk hidungku perlahan mataku kubuka. Tanganku terasa hangat. Akupun semakin membuka mata. Kulihat kei tertidur di pinggri kasur. Wajahnya kelihatan lelah. Di sofa di samping pintu masuk kak eri tampak terlelap. Perlahan tangan kananku terangkat dan membelai kepala kei yang lembut. Seperti sadar ada yang membelai, kei bangun dan senyum langsung tersungging di bibirnya.

“ rin… kau… sudah sadar?” suara yang lama tak kudengar. Tanpa pikir panjang aku membalas senyumnya. “ kau… kau pinsan selama dua hari.” suaranya seperti menahan tangis. Kak eri yang sepertinya mendengar keributan kei langsung tersadar dan menghampiri kasurku. Air matanya perlahan mengalir. Begitu kak eri mendekat, kei mundur dan membiarkan kak eri memelukku.

“ kak… aku….”

“ kamu pingsan selama dua hari. sekarang sudah nggak ada yang sakit kan?” aku menggeleng.

“ k… kei…” aku berpaling dari wajah kak eri dan memandang wajah kei yang sangat kurindukan. Kak eri mundur dan kei menghampiriku.
“ kamu sudah nggak apa-apa kan?” aku mengangguk.
“ kei… kalau nanti aku….”

“ STOP!!” kei menghentikan pembicaraanku. “ kamu jangan putus asa gitu dong. Percuma kan aku mengumpulkan keberanianku buat berteman dengan kamu kalau kamu bicara seperti itu!” katanya sambil mencubit pipiku. “ kamu harus sembuh demi kak eri dan aku. Mengerti!” aku tersenyum lalu mengangguk. “ satu lagi! Kalau kamu sudah sembuh…. Jadi pacarku ya!” wajah kei memerah. Aku dan kak eri menertawai wajah kei yang seperti kepiting rebus.

“ aku… aku lapar…” kataku sambil menahan tawa. Kak eri segera menuju lemari makanan untuk mengambilkan roti untukku. Dengan lahapnya aku makan roti pemberian kak eri. Bahagia. Hanya itu yang bisa kurasakan untuk saat ini. Entah hal ini bisa berlangsung lama atau tidak. Kak eri, kei, terima kasih kalian selalu menemaniku. Aku janji akan berusaha untuk menyembuhkan diri.
==================
       
atas saran kak eri aku menjalani operasi. Ini operasi pertama bagiku. Aku panik. Kak eripun ikut panik. Rasanya ingin tertawa kalau melihat kepanikan kak eri. Namun, kenapa belakangan ini kei jarang menemuiku? Rasa penasaranku terjawab. Sesaat sebelum aku masuk kamar operasi kak eri membawa surat yang katanya dari kei. Perlahan kubuka surat itu.

        RIIIIIN…. Semoga kamu berhasil menjalani operasi. Maaf aku nggak bisa nemenin kamu operasi. Aku… aku harus mengantar mamaku berobat ke luar negeri. Maaf sekali…. Padahal aku ingin menemani kamu sebelum sembuh, saat operasi dan saat kamu sembuh. Aku mau tahu ekspersimu yang lain. suatu saat aku pasti kembali. Tunggu ya!!! SEMANGAT….

Calon pacarmu
Kei( geer ya!! Hehe)

Ingin rasa tertawa membaca suratnya, tapi kecewa juga. Orang yang paling kuharap menemaniku saat operasi tidak ada.

“ kei pasti doain kamu kok!” kak eri memberiku semangat.
Para suster sudah mulai berdatangan. Akupun dipindahkan ke kasur yang mereka bawa dan mulai mendorongnya menuju ruang operasi. Sebelum masuk kak eri kembali menghampiriku. Ia memelukku.

“ aku mohon… kamu sembuh…” ada yang hangat di bahuku. Sepertinya kak eri menangis. Akupun mengangguk untuk menenangkan kak eri.

“ oh iya!! Ada titipan dari kei. Katanya saat operasi kamu harus pegang benda ini.” Kak eri meletakkan sebuah batu kecil yang berwarna hijau. Indah sekali. Aku menggenggamnya. Kemudian aku memasuki ruang operasi. Kei… kak eri… kei… kak eri… nama mereka selalu kusebut sebelum kesadaranku hilang.
==================
        dua tahun telah berlalu. Tanpa terasa natal kembali datang. Namun kali ini natal sangat berarti bagi seorang gadis yang sedang sibuk menghias pohon natalnya. Pikirannya kembali terkenang saat ia bertemu pria itu 2 tahun yang lalu. Batu kecil yang diberikan olehnya masih tersimpan rapi di meja belajarnya.

“ rin… pohonnya sudah dihias?”

“ sudah!” rin menghampiri kakaknya. “ apa lagi yang harus dihias?”
“ em… coba tolong kirimkan hadiah-hadiah ini untuk paman dan bibi!” eri membawa 2 bungkusan yang sama besarnya. Rin segera mengambil sepedanya dan mengkayuhnya hingga perempatan jalan di depan.

Setelah hadiah itu ia berikan pada paman dan bibinya, ia kembali mengambil sepedanya. Begitu keluar gerbang sepedanya dan seseorang bertabrakan.

“ ADUUUH…. Naik sepeda lihat-lihat dong!” ujarnya sambil bangkit dan membersihkan kotoran yang ada di bajunya.

“ kamu juga! Eh… rin!!” rin mendongak. Dilihatnya cowok di depannya.
“ kamu… kenal aku?”
“ jahat! Kamu lupa sama aku!!” ia jongkok dan mengambil batu kerikil. “ kalau begini pasti kamu ingat!” ia melemparkan kerikil ke arah jendela paman dan bibinya.

“ hei.. kamu nga… ya ampun… KEI….” Teriaknya.
“ nah baru ingat!” rin langsung memeluk kei.
“ kamu beda banget deh…”
“ aku tambah cakep kan? Makanya kamu nggak kenalin aku.” Senyumnya yang khas membuat rin rindu. “ kamu sudah sehat?”

“ seperti yang kamu lihat!!”
“ kalau begitu…. Boleh dong!”
“ apa?”
“ nggak ingat?”
“ nggak!”
“ apa karena operasi kamu jadi lupa ingatan?”
“ apaan sih??”

“ itu lho!” wajahnya memerah. Rin semakin penasaran. Setelah operasi ia memang sedikit melupakan kejadian saat ia sakit. Kenangan pahit. “ kalau kamu sembuh….”

“ kamu mau jadi pacarku. Iya kan?” wajah kei semakin memerah. Rin yang gemas melihat wajah kei langsung mengambil tangannya dan meletakkan sesuatu di telapak tangan kei.

“ dari dulu aku suka kamu kok! Thanks batunya!!”
kei yang agak lemot terdiam. Mungkin butuh waktu lama untuk mencerna kata-kata rin. Kemudian senyum terkembang di bibirnya.

“ riiiiin…. Aku sayang kamu!!” serunya sambil memeluk rin.

“ kei…. Terima kasih kamu sudah menemaniku di masa kepedihanku. Kerikil kecil yang kau lemparkan, Narsismu, cara bicaramu, senyummu… itu yang membuatku bertahan. Aku harap…. Untuk selamanya aku bisa di sampingmu. Karena hanya kamu yang membuka mataku. Bahwa di dunia ini masih banyak yang peduli padaku….”
============

*ngakak guling-guling waktu baca ulang*
Gajenyaaaaaa~~


Jaa, Mata Nee~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar