Minggu, 20 Maret 2011

Otanjoubi Omedetou Endou Yuyaaaa!!!


 Otanjoubi omedetou Niichan....
birthday story for my niichan... ^^


 ==========
“kore” ujar gadis kecil sambil menyodorkan tumpukan tanah liat di tangannya.
“ Nani kore?” sang kakak memandang heran gadis kecil di depannya.
“ kue tart. Sekarang ulang tahun niichan bukan? Aku buatin kue untuk niichan……”
Sang kakak memandang haru kea rah adik perempuannya yang nyengir memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
“ sankyuu yuki. Tapi, ini nggak bisa dimakan. Eh, gimana kalau kita isi lilin di atasnya. Terus kita tiup sama-sama…” sang kakak berjalan memasuki rumah. Tak seberapa lama, ia dating membawa lilin dan korek. Ia menaruh tanah li…. Er, kue tart buatan adiknya di sebuah papan, kemudian menancapkan lilin di tengahnya. Setelah lilin di “kue” itu menyala, gadis kecil yang dari tadi duduk di bawah pohon menghampiri kakaknya yang tersenyum. Bersama-sama mereka meniup lilin itu.
“ satu… dua… tiga… fuuuh”

Mata yuya terbuka. Mimpi….. ia bangun, dan duduk di tempat tidur. Mimpi yang aneh. Tapi, rasanya senang juga. Entah kejadian kapan itu. Yang jelas, saat itu di rumah sebesar  ini Cuma ada dirinya, yuki dan yuu.
“dulu imut begitu…. Kenapa sekarang jadi nyebelin sih!?” ia tersenyum. Menatap foto yang terpajang di sudut meja belajarnya. Foto 2 orang bocah yang tersenyum sambil membawa tanah liat dengan wajah belepotan tanah liat.

Uchimakaze…. Top ni naru tame ni wa….

Hp yuya berdering. “ siapa yang sms pagi-pagi gini sih?” ia menggerutu sambil mengambil hp dan membuka pesan dari seseorang.

Senpaaaaaiiii…… bisa ke sekolah hari ini? proposal musical tahun ini ada kesalahan… kento-senpai aku telepon nggak nyambung… bukan nggak di angkat. Tapi omongannya nggak nyambung. Sedangkan aku nggak tahu nomor hp kanata bucho. Jadinya aku sms senpai. Ayolaaaaaaah……

Sender : Yuto Nakajima

“cih…..” Yuya mengembalikan hp ke tempat semula. Setelah diam sejenak, iapun bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Sebelum masuk kamar mandi, ia terdiam di depan kalender yang terpajang di samping pintu kamar mandi. 19 maret. Akhirnya ia merasa mengingat sesuatu. Besok ulang tahunnya. Pantas saja ia mimpi seperti itu.

Setelah mandi dan membereskan semua benda yang akan ia bawa ke sekolah, iapun turun menuju dapur. Junko, ren dan yuu sudah asik berdiskusi masalah sarapan.
“ Ohayou…” sapa yuya sambil menempati tempat duduk biasanya.
“ ah, ohayou…” sapa 3 orang tersebut bersamaan.
“ tumben jam segini sudah siap. Bukannya hari ini nggak ada pelajaran?” ujar junko sambil meletakkan segelas susu hangat di depan yuya.
“ barusan di sms sama yuto. Ada proposal yang harus diperbaiki….” Yuya mengambil gelas susu yang disodorkan junko dan meminumnya sedikit. Junko yang sedari tadi sibuk memindahkan sayuran ke kulkas, menghampiri yuya dan mengelus kepalanya.
“ ii fukukaicho nee~” yuya sontak menghindari tangan junko.
“ aku bukan anak kecil lagi ma….” Protes yuya.
Junko tertawa mendengar jawaban anak lak-lakinya itu. “ wakatta….. besok kan ulang tahunmu. Berarti umurmu bertambah juga… nggak terasa kamu sudah dewasa”

“ eh? Iya ya….. besok ulang tahun yuya. Kamu mau hadiah apa?” Tanya ren sambil memotong kubis yang baru dibeli oleh yuu.
“ hum. Nani mo nai. Aku nggak butuh hadiah. Aku berangkat dulu…” setelah menghabiskan susunya, yuya mengambil tasnya dan meninggalkan dapur. Junko yang menyadari sesuatu langsung berlari menuju garasi.
“ daisuke dan sota belum datang. Kamu sudah mau berangkat? Naik apa?” Tanya junko begitu menemukan yuya di parkiran sepeda.
“ aku naik sepeda aja. Biar mereka nganter yuki, yukito dan papa aja. Ittekimasu~” yuya mulai mendayung sepedanya keluar gerbang.
“ itterashai….” Jawab junko setelah sosok yuya dan sepedanya menghilang di balik gerbang.
==========
Yuya mengayuh sepedanya perlahan menuju seigaku. Udara pagi hari yang masih bersih dan dedaunan yang rontok dari pohonnya. Yuya merasa beruntung berangkat sepagi ini. begitu sampai depan seigaku, ia langsung menuju tempat parker sepeda. Menyapa tukang kebun, ke ruang guru mengambil kunci ruang osis, ke kelas untuk menaruh tas dan melihat jadwal piket hari ini, kemudian pergi ke ruang osis.
Begitu membuka ruang osis, ruangan tersebut tampak gelap. Wajar, belum ada yang datang. Iapun meraba tembok mencari saklar. Begitu lampu ruang osis hidup….
“ HUWAAAA~~” ia dikagetkan dengan sesosok bayangan seseorang di meja ketua osis. Perlahan ia mendekati sosok yang masih tertidur itu. Begitu pasti siapa yang tidur di meja kanata, barulah ia bernafas lega. “ Oooi bucho….. ngapain kau tidur di sini?” yuya menggoncang tubuh kanata yang masih terlelap tanpa terganggu cahaya lampu. Tak ada reaksi. “ oooi… setidaknya jangan mati di sini….. aku mau buat proposal nih…. Ooi kanata…” merasa usahanya percuma, iapun berbalik dan duduk di mejanya. Ia mengambil hp dan mulai mengetik sesuatu.

To : Yuto Nakajima

Kau dimana? Aku sudah di ruang osis. Dan coba tebak, aku menemukan kanata tidur di mejanya. Kemarin kau ingat kan membangunkan kanata?

Send….
Begitu selesai mengirim sms ke yuto, yuya menghela nafas. Rasanya masih mengantuk. Mungkin tidur sebentar sambil nunggu yuto datang. Begitulah pikir yuya. Iapun mencari posisi yang enak untuk tidur, dan membenamkan kepalanya di antara kedua tangannya.

“huwaaaaaa… kenapa waktu ulang tahun niichan nggak ada papa sama mama? Hikz…. Kan kasian niichan…” gadis kecil itu mulai menangis. Ini tahun kedua ulang tahun sang kakak tanpa ditemani orang tuanya.
“ mama sama papa lagi kerja. Niichan aja nggak nangis, kenapa kamu yang nangis?” protes sang kakak sambil mengelap air mata adik kecilnya. “ jangan nangis ya… kan masih ada yuu.” Gadis kecil itu diam menatap kakaknya. Kemudian mengangguk.
“koko ni matte ne…” ujar gadis kecil itu saat sang kakak akan mengajaknya masuk ke rumah. Ia berlari meninggalkan sang kakak yang bengong melihat tingkah adiknya.
“ jangan lama-lama ya…” nasihat sang kakak. Begitu adiknya menghilang dari pandangannya, iapun mulai merasa cemas. “sebaiknya aku tunggu di teras” ujarnya menghibur diri.
30 menit kemudian gadis kecil itupun akhirnya kembali sambil membawa sesuatu. Begitu sampai di halaman gadis kecil itu mengedarkan pandangannya ke seluruh halaman untuk menemukan orang yang ia cari. Akhirnya ia menemukan orang itu sedang tertidur pulas di teras.
“niichan…niichan……” ia menggoncangkan badan sang kakak. Tak lama kemudian sang kakak pun terbangun. Begitu melihat sang kakak membuka mata, gadis kecil itu menyodorkan tanah liat yang berhias macam-macam bunga.
“senpai…… oooi senpaaaaai…”

“are?”

Yuya perlahan membuka matanya. Dilihatnya yuto berdiri di sebelahnya.
“ bangun juga. Gomen senpai. Gara-gara aku lama, senpai jadi ketiduran. Gomen ne…” yuto membungkukkan badannya.
“ Maa, ii yo. Aku jadi ada waktu untuk tidur.”
“ lalu, mana kanata-senpai? Katanya kanata-senpai di ruang osis.” Tanya yuto sambil meletakkan tas di mejannya.
“ it….” Yuya hendak menunjuk meja kanata. Tapi, orang yang dimaksud menghilang dari tempatnya. “ setidaknya tadi dia di sana. Mungkin menghilang lagi. Jadi, apa yang perlu diperbaiki?”
Yuto menyerahkan beberapa dokumen.
Yuya terus mengerjakan proposal, sedangkan yuto mengumpulkan data-data yang dianggap perlu sampai matahari sore nyaris tenggelam.
“ huaaaaah….. akhirnya selesai. Tinggal disempurnain kento-senpai besok.”
“ kalau begitu aku pulang duluan. Ingat, pastikan ruang osis kosong. Jangan biarkan kelelawar hidup itu menyelinap tidur disini lagi.” Yuya mengambil tasnya.
“ wakatta… ki o tsukete senpai…..” yuya hanya melambaikan tangannya. “ hum… apa memang Cuma perasaanku ya? Rasa-rasanya yuya-senpai terlihat lebih tenang hari ini. tau sesuatu, kanata bucho….” Yuto menoleh ke meja kanata. Benar saja, yang bersangkutan sudah duduk rapi di singgasananya.
“ lama kelamaan kau jadi mirip kento. Bisa tahu kehadiranku.” Komentar kanata.
Yuto tersenyum. “ nee, bucho tau sesuatu? Kenapa yuya senpai terlihat kalem gitu?”
Kanata tampak berpikir. “Benar juga, tumben-tumbennya tadi dia membangunkanku. Padahal biasanya lempar sepatu” pikir kanata. Iapun melirik kalender yang terletak di mejanya, kemudian tersenyum.
“ ara, kalau senyum bucho seperti itu, pasti bucho tau sesuatu..” komentar yuto saat melihat wajah kanata.
Kanata berdiri dan menghampiri yuto. “ 2 hari lagi juga dia balik kayak dulu. Cepat pulang sebelum malam…..” seusai menepuk pundak yuto, kanata menghilang di balik pintu ruang osis tanpa menyadari tatapan bingung yuto.

==========
“ Tadaima…” ujar yuya begitu masuk rumah. Sepi. Tak ada yang menyambutnya. Iapun pergi ke ruang keluarga. Tak ada orang. Begitu pula di dapur, taman bawah, dan kamar atas.
“tadaimaaa~” ujar seseorang di bawah. Yuya segera turun untuk menyambut seseorang yang datang. Begitu sampai pintu depan, dilihatnya shouma sedang melepaskan sepatu.
“ ah, okaeri oji-san.” Sambut yuya.
“ wah wah….. tumben yuya yang menyambut. Yang lain kemana?”
“entahlah. Aku pulang sekolah juga yang lain udah nggak ada.” Yuya duduk di sebelah shouma.
Shouma menatap wajah keponakannya yang makin hari makin terlihat kusam itu. “ Bagaimana pekerjaan di osis? Pasti sibuk banget ya…” tebak shouma. Yuya hanya menghela nafas. Shouma tersenyum melihat reaksi yuya.
“ sangat berat….” Jawab yuya setelah terdiam lama.
“ nani?”
“ kerjaan di osis. Aku pikir, apa lebih baik aku mengundurkan diri saja ya? Menurut paman?”
Shouma diam sejenak menatap yuya yang mulai memainkan remote tv. “ saa, menurut paman, kamu bisa bertahan sampai sekarang karena, setidaknya, kamu merasa nyaman dengan jabatanmu. Seandainya benar-benar sulit, pasti dari dulu kamu sudah mengundurkan diri. Iya kan?”
“ saa, sou dakedo…… belakangan jadi semakin aneh…”
“ bukannya kamu menikmati jabatanmu sebagai fukukaicho?” Jawaban shouma membuat yuya memandang sang paman dengan wajah tidak mengerti. Shouma hanya tersenyum menanggapi reaksi cowok judes di sebelahnya. “ kalau kamu sadar ada yang berubah di sekelilingmu, itu artinya kamu peduli dengan mereka. Iya kan? Kalau kamu merasa bosan dan tidak ada hal yang membuat kamu “bereaksi” itu tandanya kamu bener-bener nggak ingin jabatan itu. Nah, sekarang paman Tanya, seandainya kamu hari ini juga diberhentikan dari jabatanmu sebagai ketua osis, bagaimana perasaanmu?” pertanyaan shouma cukup membuat yuya berpikir keras. “ nggak usah dijawab.” Lanjut shouma. “ pikirkan dan temukan jawabannya sendiri.”
Yuya mengangguk ragu.
“ tadaimaaaa~” terdengar suara beberapa orang dari pintu masuk. Shouma dan yuya langsung bangun dari tempat duduknya dan pergi untuk menyambut orang yang datang. Ternyata yang datang Yuu, ren, dan junko. Dibelakang mereka tampak daisuke membawa beberapa tas.
“ okaeri…. Kalian dari mana?” Tanya shouma sambil membantu daisuke membawa barang bawaannya.
“ Dari kantor. Managerku tadi telepon, katanya ada banyak hadiah dan surat dari fans. Nggak kusangka sebanyak ini.” ujar junko sambil melirik tas-tas yang kini dibawa shouma dan daisuke. “ ah, taruh di sini saja….” Begitu mendapat tempat bagus untuk meletakkan barangnya, junko membantau daisuke yang membawa lebih banyak tas.
“ haaaah….. ternyata fans aneki makin banyak ya?” komentar shouma. Agak heran melihat tumpukan tas di pojok ruang tamu itu. Junko hanya tersenyum.
“ minna, aku sudah siapkan minuman. Silakan diminum….” Ren yang baru datang dari dapur meletakkan nampan berisi beberapa gelas jus jeruk.
“ aah, sankyuu ren…” ujar junko sambil menyambar salah satu gelas. Diikuti shouma dan daisuke. “ are? Yuya kemana?” Tanya junko begitu sadar putranya yang tadi ikut menyambut tidak ada di ruangan ini.
“ yuya? Rasanya tadi dia bilang mau ke kamar. Mau tidur katanya” ujar ren.
Yang lain hanya mengangguk.
==========
“niichan…kore…” begitu sang kakak membuka mata, gadis kecil itu sudah jongkok di depannya dengan wajah penuh Lumpur.
“ mata ka?” komentar sang kakak melihat gadis kecil di depannya belepotan Lumpur.
“ nani “mata ka?” tte?” jawab sang adik polos. Sang kakak hanya tersenyum.
“ nani mo nai. Ja, sore tte……” sang kakak menunjuk Lumpur yang dibawa gadis kecil itu.
“ un? Kore? Niichan ni purezento da yo. Umm… umm…ah…” gadis kecil itu beranjak menuju ruang keluarga begitu melihat seseorang lewat. “ yuu-chan… ada lilin?” suara gadis kecil itu masih terdengar oleh sang kakak. Tak seberapa lama, ia kembali dengan lilin dan koki rumah di belakangnya.
“ wah wah… yuki buat kue untuk yuya?” Tanya si koki begitu melihat Lumpur hias buatan gadis kecil itu.
“ un… tapi, kata niichan ini nggak boleh dimakan. Makanya, Cuma diisi lilin aja.” Gadis kecil itu menjelaskan sambil menaruh lilin di atas Lumpur hiasnya.
“ yuu-chan, ayo tiup lilinnya bareng-bareng…” ujar sang kakak. Si kokipun duduk untuk menyamai tingginya yang amat tinggi itu dengan 2 bocah yang duduk di seberangnya.
“ satu… dua… tiga… Fuuuuuh……”

Yuya kembali terbangun. Mimpi itu, rasanya itu tahun keduanya merayakan ulang tahun dengan Lumpur hias buatan yuki. Dan saat itulah, yuu mengambil foto mereka yang belepotan Lumpur.
Setelah merasa selesai untuk mengingat masa lalu, yuya memandang jam dinding kamarnya. 02.00….
Ya, hari ini umurnya sudah bertambah. Dan, sepertinya akhir dari mimpi tentang Lumpur hias itu. Yuya tertawa.
Pukul 05.00 yuya beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi. Begitu selesai mandi, ia mengambil hp yang ia letakkan di atas meja belajar. Ada beberapa sms. Sebagian besar mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tapi ada satu sms yang bikin dia menggerutu.

Sender : kelelawar hidup

Ah, untung aku masih bangun jam segini, sepertinya salah satu anggota ku ulang tahun. Yah, selamat ulang tahun, fukubucho. Sebagai hadian, aku limpahkan semua tugas ku hari ini padamu. Datang ke sekolah jam 6 pas. Oke?

“ dasar…. Tapi, tumben dia manggil aku fukubucho….” Yuya tersenyum “ ya sudahlah…”
Begitu selesai bersiap, ia turun dan menuju dapur. Seperti biasa, ren, yuu dan junko sudah sibuk berkutik di dapur.
“ ohayou…” sapanya sambil mengambil tempat duduknya yang biasa.
“ ohayou….” Sapa mereka bersamaan.
Seperti biasa, junko menghampiri yuya dan menyodorkan segelas susu padanya.
“ Otanjoubi omedetou…” ujar junko setelah meletakkan susu di depan tempat yuya duduk.
“ ha?”
“ kamu hari ini ulang tahun kan…. Nani ka hoshii?”
“ nani mo nai……” em… tunggu! Rasanya ada yang hilang. “ yukito sama yuki ke mana? Dari kemarin mereka nggak di rumah kan?”
“ kamu baru sadar sekarang? Adik-adikmu itu dapat undangan untuk membuat karya seni… paling nanti sore mereka pulang.”
“ huuum…. Ya sudah, aku berangkat…” yuya menghabiskan susunya kemudian beranjak dari tempat duduknya.
“ naik sepeda lagi?” Tanya junko. Yuya hanya mengangguk.
“ ittekimasu~”
“ itterashai~”

Pemandangan sama seperti yang ia lihat kemarin. Udara yang masih bersih, dedaunan yang rontok dari dahannya.
Begitu memarkirkan sepedanya, yuya ke kelasnya untuk meletakkan tasnya. Kemudian ke ruang guru untuk mengambil kunci ruang osis. Begitu tiba di depan ruang osis, yuya membuka pintu dan…. Seperti biasa, gelap…… ia pun meraba dinding untuk menemukan saklar. Begitu ia mengidupkan saklar, kembali ia dikagetkan sosok kanata yang duduk rapi di mejanya.
“ seperti biasa ya, bucho….” Ujarnya. Iapun duduk di tempatnya. “ lalu? Kali ini tugas apa?”
“ memangnya aku ada bilang mau kasih tugas?”
“ menurut smsmu tadi pagi, iya…”
“ kamu mimpi…”
Yuya memandang sinis orang yang duduk di sebelahnya. Merasa tak akan mendapat jawaban yang lebih baik lagi, yuya mengambil laporan proposal yang sudah ia dan yuto perbaiki kemarin. Tak lama kemudian……

Uchimakaze… TOP ni naru tame ni wa………

Handphone yuya berdering. Kanata yang sedari tadi diam angkat bicara.
“ kamu masih pakai nada dering itu?” tanyanya heran. Yuya hanya mengangguk.
Sms dari yuto.

Sender : Yuto Nakajima

Senpai, gomen hari ini aku nggak bisa ke sekolah. Nenekku sakit dan aku harus mengunjungi nenek. Uuummm… besok deh aku lanjutin proposalnya. Kalo senpai sudah di sekolah, lebih baik pulang aja. Daripada disiksa Kanata bucho… :D

Yuya agak kesal sekaligus geli. Bisa-bisanya dia sms seperti itu. “lebih baik aku pulang. Biar proposalnya aku lanjut di rumah. Bu…….” Niat awal ingin mengajak sang bucho pulang, apa daya orang yang dimaksud telah lenyap dari tempatnya. Agar tidak kecolongan, sebelum keluar ruang osis dan mengunci pintunya, yuya memastikan kelelawar hidup itu tidak tidur di ruang osis.

Setelah sampai rumah, dan memarkir sepedanya di tempat semula, yuya masuk kerumah.
“ Tadaimaaaa~~” ucapnya sambil melepas sepatu.
“ okaeri aniki….” Yukito menyambutnya dengan riang.
“ oh, sudah pulang?”
“ un…. Ne ne, kyou niichan no tanjoubi deshou?”
“ sou….. lalu?” yuya tidak mengerti maksud pertanyaan yukito.
“ jaa, pakai ini….” Yukito menyerahkan selendang hitam pada yuya.
“ untuk apa?”
“ tutup mata aniki pakai ini…” yukito berusaha mengikatkan selendang itu untuk menutupi mata yuya. Apa daya, yuya terlalu tinggi untuk yukito. “ aniki….. Jongkok!” perintahnya akhirnya.
“ nande ore…..” protes yuya.
“ meirei da!!” dibentak begitu, yuya sontak jongkok.
“ rasa-rasanya bocah ini makin berani memerintah orang…” piker yuya. Begitu yakin yuya tak bisa mengintip, yukito membimbing yuya menuju ruang keluarga.
“ jaa, ichi… ni….” Yukito mulai menghitung. “ san….. jyaaaaaan…” yukito menarik selendang di mata yuya, dan……

“ Happy Birthday yuyaaa~!!” seru semua orang di ruangan itu.
Sedangkan orang yang bersangkutan masih bengong di tempatnya. Setelah diam sejenak, akhirnya ia tersenyum.
“ sankyuu, minna….” Ucapnya.
Selanjutnya mereka menghabiskan sisa malam ulang tahun yuya dengan berbagi kegiatan. Ada yang karaoke, menyanyi, makan, dan bercanda. Yuya memperhatikan orang-orang di sekelilingnya.
“ Niichan, kore…..” yuki menghampiri yuya dan menyerahkan sebuah kotak biru berpita biru langit. Setelah yuya menerima kado pemberian yuki, yukito menghampiri mereka.
“ aku dan aneki yang buat. Ummm…. Aneki yang ngusul sih….. ayo dibuka!!” Pinta yukito dengan mata yang berbinar.
Pandangan mata yukito yang seperti itu, tak ada seorangpun yang bisa melawannya. Akhirnya yuya membuka kado dari adik-adiknya. Begitu kado itu terbuka, yuya kaget dengan isi kadonya.
“ ini…..”
“ hehehehe….. niichan masih ingat? Kalau dulu aku buat, terus sorenya udah kubuang gara-gara hancur, sekarang, aku yakin ini ga bisa hancur.” Yuki menjelaskan maksud hadiahnya itu.
Yep! Ku…. Em, tanah liat hias berbentuk kue tart. Memang dasar orang yang buat sama, desainnya dari beberapa tahun yang lalu nggak berubah.
“ arigatou, yuki…. Yukito…..”

==========
Beberapa hari kemudian…….

“ Bucho, bisa dijelaskan kenapa aku harus mengulang proposal musical tahun ini? bukannya semua sudah komplit di tangan matsushita-san?” itulah kalimat protes pertama yang didengar yuto begitu memasuki ruang osis.
Ia tertawa dalam hati. “ ternyata perkiraan kanata-bucho benar…”

==========
Akhirnyaaaa selesai……
Btw, Otanjoubi omedetou niichan. Success with your D-Boys…… :D
Nggak mau nyebut umur…. Ntar ketahuan kalo umurnya udah 24….*diiket di pohon tomat sama yuya* XD
Berhubung penderitaan tugas belom selesai, jadi nggak pengen ngobrol yang laen lagi…..
Pokoknya selamat Niichaaaan!!
Jaa, Mata nee~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar